Dua koloni, dua tempat

vrijheidslust cover
vrijheidslust cover

Di sinilah satu kekeliruan mudah terjadi ketika kita membaca nama-nama pada peta atau artikel masa kini. Vrijheidslust di Lembang dan Generaal-de-Wet di Tjisaroewa adalah dua koloni yang berkaitan, tetapi tidak boleh dianggap satu lokasi.

Generaal-de-Wet tumbuh setelah sebagian kelompok pindah, menggunakan lahan bekas kebun kopi pemerintah di Tjisaroewa. Walaupun nama sejumlah pendirinya beririsan dengan kisah Vrijheidslust, sejarah keduanya harus ditelusuri sebagai dua tempat. Dalam penelitian sejarah kampung, penyamaan dua nama ini bisa menyebabkan salah lokasi sampai berpuluh tahun.

Dirinya tidak serta-merta hilang dari catatan. Cultuuradresboek voor Indië tahun 1915, pada daftar tanah pertanian kecil untuk wilayah Preanger, masih memuat nama Vrijheidslust dan J. F. Bothma dalam deretan yang berkaitan dengan Distrik Lembang. Sebuah tanggal dalam tabel tersebut berpasangan dengan Januari 1912; karena reproduksi tabelnya kurang rapi, detail nomor kolom dan akta perlu dikonfirmasi langsung dari halaman cetak atau arsip agraria sebelum dijadikan kepastian hukum.

Apa yang dapat dan belum dapat dibaca dari arsip?

Ada beberapa macam sumber yang membawa kita kepada Vrijheidslust, dan semuanya perlu dibaca menurut wataknya. Koran De Preanger Bode atau De Locomotief adalah pemberitaan sezaman. Koran dapat memperlihatkan suasana, nama, dan peristiwa ketika hal itu sedang berlangsung. Namun, laporannya juga membawa sudut pandang redaksi dan narasumber kolonial yang tidak selalu mencatat suara penduduk Lembang.

Surat dari seorang penghuni koloni, seperti dokumen yang bertanggal 29 Desember 1903, lebih pribadi. Kita bisa mengetahui bahwa ada perselisihan dan bagaimana seorang pemimpin menyatakan posisinya. Akan tetapi, dari satu surat saja kita tidak boleh menyimpulkan siapa yang benar dalam seluruh sengketa atau bagaimana kepemilikan tanah akhirnya diputuskan.

Direktori pertanian tahun 1915 merupakan jenis sumber yang berbeda lagi. Entri sebuah nama dan pemegang hak membantu menguji apakah usaha masih muncul dalam catatan administratif. Tetapi tabel semacam itu hanya berisi rangkuman, bukan keseluruhan cerita kehidupan orang-orang di kebun. Urutan kolom, ejaan, serta tanggal yang tertera masih harus diperiksa pada cetakan asli, terutama jika dipakai untuk menelusuri hak atas tanah.

Karena alasan itu, penelusuran kita tidak menyimpulkan bahwa semua kebun sapi perah yang pernah ada di Lembang berasal dari Vrijheidslust. Kehidupan peternakan di dataran tinggi juga terkait kebun, perusahaan, peternak lokal, serta usaha lain pada masa berbeda. Jejak sebuah percobaan pemukiman dapat memperkaya cerita yang lebih besar, tetapi bukan satu-satunya asal-usul.

Arsip foto pun mempunyai keterbatasan sendiri. Foto yang menunjukkan rumah, kandang, atau pekerja tidak selalu memperlihatkan tahun dan nama semua orang di dalamnya. Identitas koleksi, lokasi, fotografer, dan hak penggunaan harus dibaca sebelum foto dilekatkan pada tulisan sejarah. Itulah sebabnya ilustrasi yang disertakan di sini sengaja diberi label sebagai rekonstruksi suasana, bukan bukti bentuk asli Vrijheidslust.

Di manakah Vrijheidslust bila dicari hari ini?

Pertanyaan terpenting bagi penelusuran Lembang masa kini bukan sekadar siapa saja para pendatang itu, tetapi di tanah manakah mereka pernah tinggal dan bertani. Nama Nagrak, bekas kebun kina pemerintah, serta kawasan lereng selatan Tangkuban Parahu merupakan petunjuk yang menarik. Ada pula hipotesis penelitian yang menempatkan bekas koloni tidak jauh dari koridor Sukajaya–Lembang Asri. Akan tetapi, kedekatan nama dan lingkungan belum membuktikan persamaan bidang tanah.

Untuk memastikannya masih dibutuhkan peta lama dengan skala yang cukup baik, batas persil atau erfpacht, serta dokumen agraria. Foto kartu pos berjudul Boerderij Vrijheidslust dapat membantu membayangkan bangunannya bila metadata koleksinya sudah diperiksa, tetapi bentuk bangunan tidak boleh dipakai untuk menebak lokasi modern tanpa pembanding.

vrijheidslust isi 01
vrijheidslust isi 01

Yang dapat kita katakan sekarang lebih sederhana sekaligus lebih kokoh: tahun 1903 menjadi tonggak percobaan pertanian Boer di Lembang; pada 1904 terjadi pemisahan yang melahirkan koloni lain di Tjisaroewa; dan nama Vrijheidslust tetap muncul pada sumber administratif awal abad ke-20. Adapun pertanyaan tentang titik lokasinya justru memberi pekerjaan lapangan yang masih menarik untuk dilanjutkan.

Sebuah tempat, banyak lapisan sejarah

Jika berdiri di dataran tinggi Lembang sekarang, jejak masa lalu mungkin tidak mudah dibaca. Kebun berganti fungsi, jalan berubah, dan bangunan tua ada yang hilang. Tetapi arsip menyimpan kejutan: pada suatu masa, lahan bekas kina juga pernah menjadi tempat percobaan budidaya sayur, susu, unggas, dan lebah oleh sekelompok pendatang yang sedang mencari nasib baru.

Kisah itu patut dibaca tanpa menghapus pekerja dan warga lokal dari panggungnya. Sejarah bukan hanya tentang nama pemilik dan pemimpin koloni, melainkan juga tentang siapa mendapat tanah, siapa bekerja, siapa memperoleh kesempatan, dan bagaimana perubahan ekonomi dirasakan masyarakat sekitarnya.

Catatan sumber: Penelusuran ini menggabungkan berita koran Hindia Belanda 1903–1904 sebagaimana direkonstruksi Ahmad Fikri (BandungBergerak, 2021), reproduksi surat 29 Desember 1903 dalam majalah VVOF (2020), serta entri Cultuuradresboek voor Indië (1915). Detail peta persil, kepemilikan hukum, dan kesamaan dengan lokasi bangunan masa kini belum dipastikan.