Pada April 1903, sekelompok pendatang dari Afrika Selatan tiba di Bandung. Mereka bukan wisatawan yang hendak menikmati pegunungan. Tujuan mereka adalah membuka kehidupan baru sebagai petani di lereng utara kota, pada kawasan Lembang yang ketika itu telah lama mengenal perkebunan kina.
Nama tempat yang kemudian mereka gunakan terdengar indah: Vrijheidslust, kira-kira bermakna kerinduan akan kebebasan. Tetapi kehidupan di sana jauh dari bayangan sebuah permukiman Eropa yang tenang. Mereka harus membenahi lahan yang lama digunakan sebagai kebun, menghadapi kesulitan bertani, mengurus ternak, dan tidak lama kemudian berhadapan dengan perselisihan di antara mereka sendiri.
Jejak peristiwa itu bisa diikuti melalui koran Hindia Belanda tahun 1903–1904 yang ditelusuri kembali dalam riset sejarah lokal, sebuah surat bertanggal 29 Desember 1903 yang diperbanyak dalam majalah sejarah, serta direktori pertanian tahun 1915. Masing-masing memberikan kepingan cerita yang berbeda.
Dari Afrika Selatan ke lereng Lembang
Orang Boer dikenal sebagai komunitas keturunan pemukim Eropa di Afrika Selatan. Pada pergantian abad ke-20, perang di wilayah itu mengubah kehidupan banyak keluarga. Sebagian orang yang pernah menjadi tawanan Inggris kemudian mencari kesempatan lain. Hindia Belanda, yang diperintah pemerintah kolonial Belanda, menjadi salah satu tujuan percobaan pemukiman.
Penelusuran Ahmad Fikri dalam seri Ngulik Bandung: Jejak Bangsa Boer di Lembang menunjukkan rombongan Johan G. van Ham dan 18 rekannya tiba di Batavia pada 15 April 1903. Tiga hari kemudian, pada 18 April, mereka sampai di Bandung dan meneruskan perjalanan ke Lembang. Laporan De Preanger Bode bertanggal 20 April 1903 menggambarkan perjalanan menuju lahan perkebunan kina pemerintah yang mulai ditinggalkan karena pohonnya menua.
Bagi warga setempat, kedatangan orang-orang asing ini tentu menjadi pemandangan tersendiri. Bagi pejabat kolonial yang mendukungnya, koloni itu adalah percobaan: mungkinkah para pendatang membangun kegiatan pertanian kecil dengan cara yang mereka kenal dari tempat asal?
Mereka tidak memulai dari tanah kosong. Mereka memanfaatkan sebuah bangunan bekas tempat tinggal administratur kebun kina. Sumber koran yang dikutip dalam penelusuran tersebut menempatkannya di lereng selatan Tangkuban Parahu, tidak jauh dari makam Franz Wilhelm Junghuhn. Keterangan ini membantu mempersempit kawasan penelitian, tetapi belum menetapkan satu alamat jalan modern secara pasti.
Kerja kebun, susu, dan percobaan usaha

Bekas kebun kina tidak segera berubah menjadi ladang sayur. Akar tua harus dicabut dan tanah diolah lagi. Para penghuni membagi waktu kerja, mengurus alat, serta membentuk pembagian tugas yang cukup ketat. Penelusuran terhadap laporan sezaman menggambarkan ada bagian pertanian dan peternakan, bahkan aturan kedisiplinan yang mengingatkan pada organisasi militer.
Di lahan baru itu mereka mencoba berbagai tanaman: kentang, wortel, tomat, kacang, hingga tanaman yang bagi sebagian pembaca masa kini terdengar tak biasa untuk percobaan pertanian Lembang. Mereka juga memelihara sapi, unggas, serta lebah. Berbagai hasilnya dikirim ke pasar Bandung. Usaha semacam itu menunjukkan bahwa perkembangan pertanian dataran tinggi tidak dapat dijelaskan hanya melalui satu tanaman atau satu keluarga pemilik perkebunan.
Ada detail menarik yang tercatat dari De Preanger Bode tanggal 28 Agustus 1903: para pendatang membuka sebuah Bijenpark, taman lebah yang dapat dikunjungi pada hari Minggu dalam jam tertentu. Para pengunjung dapat melihat kehidupan lebah melalui kotak pemeliharaan dengan bagian yang dibuat transparan. Di tengah kesibukan memulai pertanian, mereka rupanya juga memikirkan cara memperkenalkan budidaya kepada orang lain.
Namun, kisah ini bukan sekadar cerita kemajuan teknologi dari Eropa. Dalam laporan tahun 1903, para pendatang mula-mula menolak bekerja bersama penduduk pribumi dan lebih memilih melibatkan sejumlah pemuda Indo. Sikap itu memperlihatkan ketimpangan sosial dan rasial dalam lingkungan kolonial. Warga setempat sudah memiliki pengetahuan pertanian mereka sendiri, sementara pendatang memperoleh dukungan modal, tanah, hewan, serta akses pasar dari berbagai pejabat. Keduanya tidak memulai dari kedudukan yang setara.
Ketika Vrijheidslust terpecah
Belum genap satu tahun, hubungan antarpenghuni koloni memburuk. Urusan pembiayaan, pengelolaan, dan rencana memperoleh tanah sendiri memunculkan pertentangan. Surat bertanggal 29 Desember 1903, yang direproduksi dalam terbitan perkumpulan sejarah Belanda, memberi potret ketegangan itu dari sudut salah seorang pemimpin, J. F. Bothma. Surat tersebut menyatakan bahwa sejumlah anggota hanya dipandang sebagai tamu sampai mereka pergi. Dokumen itu membuktikan adanya konflik pengelolaan, bukan secara otomatis membuktikan hak milik tanah secara hukum.
Koran De Locomotief yang dikutip dalam penelitian Ahmad Fikri mencatat pada Januari 1904 adanya kelompok yang meninggalkan Vrijheidslust menuju Tjisaroewa. Laporan komite kolonisasi yang diberitakan pada April 1904 lalu menjelaskan bahwa sebagian anggota memang membuka tempat baru dan kelompok lama pun berubah kepemimpinan.

