Konon, ada sebuah malam di pedalaman Lembang ketika suara lonceng terdengar dari tempat yang tidak memiliki lonceng.
Tidak ada menara. Tidak ada orang yang menarik tali. Tidak ada pula hewan ternak yang sedang digiring pulang. Bunyi itu datang dari arah sebuah batu tua di bukit, lalu merambat melewati pepohonan, kebun, dan atap-atap rumah.
Yang lebih aneh, tidak semua orang dapat mendengarnya.
Orang-orang kampung mendengar dentang yang panjang dan berat. Namun bagi mereka yang datang dari luar, malam itu tidak memiliki suara selain angin.
Dan menjelang fajar, kampung tersebut konon sudah tidak terlihat.
Dentang Pertama
Malam telah lama turun. Dari lereng Gunung Palasari, kabut bergerak perlahan menuju permukiman. Atap rumah yang biasanya tampak dari jalan setapak mulai menghilang satu demi satu di balik selimut putih.
Seorang lelaki tua masih duduk di beranda. Di pangkuannya terdapat sebuah lampu minyak yang cahayanya semakin kecil. Ia tidak menunggu siapa-siapa, tetapi belum ingin tidur.
Sejak sore ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Burung-burung pulang lebih awal, dan anjing yang biasanya menggonggong kepada orang lewat justru bersembunyi di bawah kolong rumah.
Di kejauhan terdengar langkah.
Seorang pemuda muncul di jalan kampung dengan napas terburu-buru.
"Di atas ada orang?" tanya lelaki tua itu.
Pemuda tersebut mengangguk. "Ada cahaya bergerak di jalan hutan. Banyak."
Lelaki tua itu menatap arah bukit. Beberapa saat kemudian, sebuah suara terdengar.
Deng.
Ia mengangkat kepala.
Deng.
Bunyi kedua lebih panjang. Seolah-olah sebuah lonceng raksasa dipukul dari dalam tanah.
"Kau dengar?" bisiknya.
Pemuda itu tidak langsung menjawab. Wajahnya yang semula tegang berubah pucat.
"Itu dari atas."
Mereka sama-sama mengetahui tempat yang dimaksud.
Di bukit dekat makam tua terdapat sebongkah batu yang bentuknya menyerupai lonceng. Orang-orang menyebutnya Batu Loceng.
Sepanjang yang mereka tahu, tidak ada tangan manusia yang mampu membuat batu itu berbunyi. Tetapi cerita orang-orang tua mengatakan bahwa pada saat tertentu, batu itu akan memberi peringatan.
Malam itu, peringatan tersebut kembali terdengar.
Kampung yang Mendadak Sunyi
Lelaki tua itu segera mendatangi rumah-rumah di dekatnya. Ia tidak mengetuk keras. Cukup berbisik dari balik pintu, lalu menyampaikan agar penghuni tetap tenang dan tidak menyalakan terlalu banyak lampu.
Satu per satu cahaya rumah meredup.
Jalan kampung yang tadi masih terlihat kini hanya berupa garis gelap di antara kebun dan rumpun bambu.
Sementara itu, dari arah hutan, suara ranting patah semakin dekat.
Orang-orang asing sedang menuju permukiman.
Mereka berjalan membawa lampu. Dari kejauhan tampak seolah mereka mengetahui jalan yang benar. Tetapi ketika sampai di sebuah tikungan, orang paling depan berhenti.
"Tadi rumah-rumahnya terlihat di sana," katanya.
Ia menunjuk ke arah lereng.
Di tempat yang ditunjuk hanya ada pepohonan dan kabut.
Temannya maju beberapa langkah. Ia menyibakkan daun-daun basah dengan tangan.
"Mungkin kita salah jalan."
Padahal di balik kabut itu, orang-orang kampung sedang berdiam dalam rumah masing-masing.
Seorang ibu memeluk anaknya agar tetap tenang. Seorang kakek duduk membelakangi pintu. Tidak seorang pun berani membuka jendela.
Dari luar terdengar suara seseorang memanggil.
"Ada orang di sini?"
Tidak ada jawaban.
Orang itu memanggil lagi, kali ini lebih keras.
Salah satu anak hampir menjawab, tetapi ibunya menempelkan jari pada bibirnya.
Di bukit, Batu Loceng berbunyi sekali lagi.
Deng.
Kali ini tidak seperti bunyi logam biasa. Dentangnya seakan muncul dari segala arah sekaligus.
Orang-orang asing mendadak diam.
Mereka saling memandang. Tidak seorang pun bisa menunjukkan dari mana suara tadi berasal.
"Kau mendengar sesuatu?" tanya salah satunya.
"Tidak. Hanya angin."
Padahal bagi penghuni kampung, dentang itu masih terasa memenuhi udara.
Jalan yang Tidak Sampai
Orang-orang asing itu memutuskan berjalan lebih jauh. Mereka melewati sebatang pohon besar, turun melalui jalan tanah, lalu berbelok mengikuti lereng.
Tidak lama kemudian, mereka kembali menemukan pohon yang sama.
Salah seorang menggerutu. Ia yakin mereka belum pernah melewati jalan itu.
Mereka mencoba lagi, memilih arah berbeda. Namun setelah berjalan cukup lama, pohon besar tersebut kembali berdiri di hadapan mereka.
Kali ini tak seorang pun ingin melanjutkan perjalanan.
Seorang lelaki melihat sesuatu di balik kabut. Sebuah cahaya kecil bergerak mendekati mereka.
Awalnya cahaya itu tampak seperti lampu dari sebuah rumah.
Lelaki itu melambai.
"Hei! Tunggu!"
Cahaya tersebut berhenti.
Ia berjalan mendekat. Tetapi setiap kali jaraknya terasa semakin dekat, cahaya itu justru kembali jauh.
Ketika ia akhirnya berhenti, cahaya tadi padam begitu saja.
Dari tempat cahaya itu menghilang, terdengar suara lonceng yang sangat pelan.
Hanya satu dentang.
Orang-orang asing mulai berjalan mundur.
Mereka meninggalkan jalan kampung tanpa mengetahui bahwa di belakang kabut, rumah-rumah masih berdiri dengan para penghuninya yang menunggu pagi.
Pagi yang Mengembalikan Segalanya
Menjelang subuh, udara perlahan berubah. Kabut mulai terangkat. Pohon-pohon muncul kembali dari kegelapan.
Suara ayam terdengar dari kandang. Asap tipis mulai naik dari dapur rumah.
Ketika matahari menerangi lereng, kampung itu tampak seperti biasanya.
Tidak ada rumah yang berpindah. Tidak ada jalan yang menghilang. Tidak ditemukan pula bekas perubahan aneh pada tanah.
Namun para penghuni yakin bahwa sesuatu telah terjadi pada malam sebelumnya.
Mereka saling menceritakan dentang yang datang dari bukit.
Ada yang mendengarnya sekali. Ada yang merasa mendengarnya berkali-kali. Beberapa orang bersikeras bahwa mereka dapat merasakan suara itu meskipun tidak tahu bagaimana menjelaskannya.
Seorang pemuda memberanikan diri bertanya kepada lelaki tua yang semalam berjaga.
"Apa benar kampung kita menghilang?"
Lelaki itu menggeleng perlahan.
"Entahlah. Kita masih ada di sini."
"Lalu kenapa mereka tidak melihat rumah-rumah kita?"
Lelaki tua tersebut memandang bukit.
"Barangkali ada hal yang memang tidak boleh dilihat oleh setiap orang."
Rahasia di Sekitar Makam Tua
Batu Loceng bukan satu-satunya benda yang memperoleh cerita dalam kawasan itu.
Di dekatnya dikenal pula sebuah batu yang bentuknya menyerupai pegangan kujang. Batu tersebut dikaitkan dengan seorang tokoh bernama Sembah Sunan Dalem Marga Taka dalam penuturan masyarakat setempat.
Konon, Batu Kujang dapat berubah kemiringan ketika negeri menghadapi pergolakan besar. Ada yang menghubungkannya dengan pergantian kekuasaan. Ada pula yang mengingat peristiwa bencana alam ketika menceritakan perubahan posisi batu tersebut.
Jika Batu Loceng dipercaya memberi peringatan melalui suara, Batu Kujang dipercaya menyampaikan tanda melalui gerakan.
Dua benda diam yang, dalam cerita masyarakat, justru menjadi penjaga yang paling waspada.
Dan di antara semua kisah itu, ada satu pertanyaan yang terus bertahan: jika batu tersebut benar-benar berdentang lagi pada suatu malam, siapa yang akan mendengarnya?
Di Balik Kisah
Batu Loceng adalah situs nyata di Kampung Batu Loceng, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Kepercayaan mengenai kekeramatannya telah menjadi objek penelitian Aan Nugraha pada 2002.
Dalam wawancara yang diterbitkan Ayo Bandung pada 2018, juru kunci bernama Maman menuturkan kepercayaan bahwa batu tersebut dahulu dapat berbunyi sebagai peringatan saat musuh mendekat, bahkan membuat kampung seakan tidak terlihat.
Berita Detik tahun 2020 juga mencatat cerita Maman mengenai Batu Kujang yang dipercaya bergeser pada masa pergolakan.
Adapun tokoh lelaki tua, pemuda, percakapan, jalan yang berputar, serta kejadian sepanjang malam dalam artikel ini merupakan pengembangan cerita horor oleh Portal Masa. Bagian tersebut bukan laporan peristiwa sejarah yang telah dibuktikan.

