Nagrak hari ini lekat dengan permukiman, kebun, jalan kampung, dan kegiatan pertanian. Namun dalam penelusuran arsip abad ke-19, nama Nagrak muncul sebagai bagian dari usaha budidaya kina pemerintah di kawasan pegunungan Lembang.
Temuan ini menarik karena mengubah cara kita membayangkan tempat yang kini tampak biasa. Di balik jalan kampung dan lahan pertanian pernah berlangsung percobaan tanaman yang terhubung dengan ilmu pengetahuan, ekonomi kolonial, dan pengobatan malaria.
Mengapa Pemerintah Kolonial Tertarik pada Kina?
Malaria merupakan penyakit yang lama menjadi persoalan kesehatan di kawasan tropis. Kulit pohon kina mengandung senyawa yang dapat digunakan untuk menghasilkan kuinin, obat antimalaria yang penting pada zamannya.
Tanaman asal Amerika Selatan ini kemudian dicoba dibudidayakan di berbagai wilayah kolonial Eropa, termasuk Pulau Jawa.
Budidaya kina bukan pekerjaan sesederhana menanam pohon yang cocok di pegunungan. Para pengelolanya harus memikirkan curah hujan, suhu, umur tanaman, mutu kulit, cara pembibitan, dan hasil pengolahan. Tidak semua jenis kina memberikan kandungan zat yang sama.
Itulah sebabnya laporan ilmiah abad ke-19 banyak membahas berbagai jenis Cinchona, termasuk Cinchona calisaya dan Cinchona succirubra.
Dalam sejarah Priangan, nama Franz Wilhelm Junghuhn sangat erat dengan pengembangan kina. Namun sejarah Nagrak sebagai kawasan tanaman percobaan tidak dapat disederhanakan menjadi kisah satu orang saja. Pengelolaan kina melibatkan pemerintah, ahli tumbuhan, administratur kebun, dan para pekerja lapangan.

Nama Nagrak dalam Laporan Abad ke-19
Dalam koleksi penelitian yang telah dihimpun, nama Nagrak muncul berulang kali pada dokumen Gouvernements-Kina-cultuur, yaitu budidaya kina yang dikelola pemerintah kolonial.
Catatan dari tahun 1860-an hingga penghujung abad ke-19 menunjukkan bahwa Nagrak bukan sekadar nama tempat. Kawasan ini masuk dalam jaringan pengembangan dan penelitian tanaman kina di lereng Tangkuban Parahu.
Literatur lama bahkan mencatat pohon Cinchona succirubra berumur sebelas tahun di Nagrak. Keterangan tersebut penting karena menunjukkan adanya pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman dalam rentang waktu panjang.
Catatan lain membahas fasilitas pengeringan kulit kina di Nagrak dan Tjinjiroean. Dalam bahasa Belanda, alat atau bangunan pengering disebut droogoven.
Keberadaan fasilitas pengeringan memberi gambaran bahwa kegiatan perkebunan tidak hanya berhenti pada menanam dan memelihara pohon. Kulit kina juga harus ditangani sebelum diperdagangkan atau diolah lebih lanjut.
Kita belum dapat menunjukkan lokasi pasti bangunan pengering tersebut pada peta modern. Namun catatan lama memperlihatkan bahwa Nagrak mempunyai fungsi nyata dalam kegiatan perkebunan kina.
Peta Tahun 1904: Nagrak Sudah Tercatat Jelas
Salah satu peninggalan paling menarik adalah peta topografi lama kawasan Tangkuban Parahu yang telah tersimpan dalam koleksi penelitian Portal Masa.
Peta itu merupakan lembar Java, Residentie Batavia en Preanger Regentschappen, dengan keterangan revisi tahun 1904 dan skala 1:20.000.
Di dalamnya tercantum nama Nagrak dan Tjiwangoen. Tidak jauh dari keduanya terlihat pula Soekawana, Djajagiri, serta berbagai nama kampung dan perkebunan.
Peta ini membantu kita memahami Nagrak bukan sebagai titik yang terpisah dari daerah lain, melainkan bagian dari lanskap perkebunan, jalan, dan permukiman di kaki Tangkuban Parahu.
Nama-nama lama yang masih dapat dikenali hari ini juga memperlihatkan bagaimana sebagian identitas geografis bertahan sekalipun fungsi lahan dan bangunan telah mengalami perubahan.
Seperti Apa Pekerjaan di Kebun Kina?
Di kawasan perkebunan kina, pekerjaan berlangsung melalui banyak tahapan: pembibitan, pemindahan tanaman, pemeliharaan, pengamatan pertumbuhan, pemanenan kulit, pengeringan, hingga pengangkutan.
Semua pekerjaan itu membutuhkan tenaga manusia, peralatan, dan akses jalan.
Dokumen kolonial sering mencatat nama ahli atau pejabat perkebunan, tetapi lebih sedikit menceritakan para pekerja yang membersihkan lahan, membawa hasil, dan merawat tanaman sehari-hari.
Padahal keberhasilan suatu perkebunan tidak hanya ditentukan oleh keputusan para administratur. Ia juga bergantung pada keterampilan dan kerja keras orang-orang yang terlibat langsung di lapangan.
Sejauh ini belum ditemukan daftar lengkap pekerja kina Nagrak yang dapat memperlihatkan kehidupan mereka satu per satu. Ini menjadi bagian sejarah sosial yang menarik untuk terus digali.
Ketika Bekas Kebun Mendapat Penghuni Baru
Pada awal abad ke-20, cerita perkebunan kina Lembang bertemu dengan kisah kedatangan sekelompok orang Boer dari Afrika Selatan.
Pada 1903, mereka mencoba membangun koloni pertanian bernama Vrijheidslust di kawasan bekas perkebunan kina pemerintah.
Sumber-sumber yang ditelusuri dari surat kabar lama menggambarkan adanya rumah bekas administratur dan lahan yang perlu diolah kembali. Para pendatang itu kemudian mengembangkan berbagai kegiatan pertanian dan peternakan.
Peristiwa ini memperlihatkan perubahan ekonomi yang menarik. Lahan yang sebelumnya menjadi bagian dari kegiatan ilmiah dan komersial tanaman kina kemudian dapat digunakan untuk usaha pertanian lain.
Namun perlu dibedakan antara kawasan perkebunan kina Nagrak yang luas dan titik bangunan Vrijheidslust. Kita belum mempunyai peta bidang tanah yang memastikan seluruh hubungan lokasinya secara terperinci.
Dari Kina ke Kehidupan Sukajaya
Dalam perkembangan berikutnya, Nagrak semakin dikenal sebagai kawasan kampung, pertanian, serta bagian dari kehidupan masyarakat Sukajaya.
Nama Pasar Kemis juga muncul dalam ingatan warga yang menghubungkannya dengan lingkungan Nagrak lama. Dalam sejumlah penuturan yang diterbitkan media lokal, kegiatan pasar disebut telah berlangsung sekitar 1930-an.
Cerita warga seperti ini penting untuk memperkaya jejak administratif dan peta. Ia menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya tersimpan pada dokumen pemerintah, tetapi juga dalam ingatan masyarakat mengenai perubahan tempat tinggal mereka.
Untuk memahami perubahan kawasan secara lebih jauh, peta lama dapat dibandingkan dengan jaringan jalan, aliran air, kampung, dan penggunaan lahan sekarang.
Nagrak, Nama Kampung dengan Sejarah Panjang
Banyak orang mengenal Lembang melalui kebun teh, peternakan sapi, dan tempat wisata. Tetapi Nagrak memperlihatkan lapisan sejarah yang lebih tua.
Nama yang sekarang terdengar begitu akrab ternyata sudah muncul dalam dokumen ilmiah, laporan perkebunan, dan peta kolonial.
Di sana pernah berlangsung usaha menumbuhkan tanaman yang kemudian menjadi komoditas penting bagi dunia pengobatan dan ekonomi kolonial.
Dari kebun kina, usaha pertanian, hingga perkembangan kampung modern, Nagrak menunjukkan bagaimana sebuah tempat dapat mengalami berbagai perubahan tanpa kehilangan namanya.
Dan mungkin, masih ada jejak lain yang tersimpan dalam foto keluarga, cerita orang tua, atau sudut-sudut kampung yang selama ini kita lewati tanpa mengetahui masa lalunya.

