Ada sebuah cerita yang beredar di antara orang-orang yang pernah melewati jalur hutan Sukawana menuju Cikole.

Konon, tidak semua orang yang ikut dalam sebuah foto benar-benar datang bersama rombongan.

Kisah itu bermula dari jalan tanah yang berkelok di antara pohon-pohon tinggi. Pada siang hari, kawasan tersebut tampak seperti hutan pegunungan biasa. Cahaya matahari jatuh di sela ranting, tanah mengeluarkan aroma lembap, dan kabut sesekali bergerak dari lereng.

Tetapi ketika sore hampir habis, bentuk pepohonan berubah menjadi siluet gelap.

Di tempat seperti itulah orang-orang mulai mengingat cerita tentang Leuweung Kunti.

Rombongan yang Berhenti di Hutan

Sejumlah kendaraan bergerak perlahan mengikuti jalur berbatu. Hutan di sekeliling mereka semakin rapat. Suara mesin sesekali memantul di antara batang-batang pohon.

Salah seorang penumpang melihat jam tangannya. Hari sudah terlalu sore untuk berlama-lama berhenti.

Namun di sebuah tanah lapang kecil, kendaraan paling depan berhenti.

"Kita foto dulu sebentar," kata seseorang.

Para penumpang turun. Beberapa orang berdiri di depan kendaraan, sedangkan yang lain memilih berlatar pepohonan.

Seseorang menyiapkan kamera dan meminta semuanya mendekat.

"Jangan ada yang tertinggal."

Mereka menghitung jumlah anggota rombongan.

Semua lengkap.

Kamera diarahkan.

Jepret.

Sesudah itu, perjalanan dilanjutkan.

Bayangan di Kursi Belakang

Ketika rombongan mulai bergerak, seorang penumpang merasa ada yang aneh.

Ia duduk di bagian belakang kendaraan dan beberapa kali mendengar suara seperti kain yang bergesekan.

Awalnya ia mengira ada tas yang bergeser karena jalan tidak rata.

Namun saat memandang kaca jendela, ia melihat pantulan samar di belakang bahunya.

Sesuatu yang pucat.

Ia segera menoleh.

Tidak ada siapa-siapa.

Bangku di sampingnya kosong.

Ia mencoba mengalihkan pikiran dengan mengobrol, tetapi temannya yang duduk di depan justru bertanya lebih dahulu.

"Tadi kamu pindah tempat duduk?"

"Tidak."

"Lalu siapa yang duduk di belakang waktu kita berhenti?"

Pertanyaan itu membuatnya terdiam.

Ia kembali melihat kaca jendela.

Di luar hanya ada batang-batang pinus yang berlalu.

Foto yang Diperiksa Kembali

Setibanya di tempat istirahat, salah seorang anggota rombongan membuka hasil foto.

Gambar pertama terlihat biasa. Beberapa orang tersenyum dengan latar kendaraan dan hutan.

Gambar kedua juga tidak menunjukkan sesuatu yang mencurigakan.

Tetapi pada foto berikutnya, seseorang memperbesar bagian belakang rombongan.

Di antara dua orang yang sedang berdiri, terlihat bentuk yang menyerupai seorang perempuan.

Rambutnya tampak panjang. Pakaiannya pucat.

Bagian wajahnya tertutup bayangan.

"Dia siapa?" tanya seseorang.

Tidak ada yang menjawab.

Mereka mencoba menghitung kembali jumlah orang dalam foto.

Satu.

Dua.

Tiga.

Semakin lama diperhatikan, semakin jelas bahwa bentuk perempuan itu tidak cocok dengan siapa pun dalam rombongan.

Seseorang mencoba mengingat saat pemotretan.

"Bukankah tadi semua sudah dihitung?"

Temannya mengangguk.

"Sudah. Semuanya lengkap."

Mereka memeriksa foto lain.

Sosok tersebut tidak terlihat lagi.

Jangan Menoleh pada Panggilan Terakhir

Keesokan harinya, cerita mengenai foto tersebut mulai dibicarakan.

Ada yang menganggapnya pantulan cahaya. Ada yang mengatakan mungkin seorang pengunjung lain kebetulan berada di belakang rombongan.

Namun sebagian orang menghubungkannya dengan cerita lama tentang perempuan misterius di hutan Cikole.

Dalam percakapan tentang Leuweung Kunti, sosok perempuan berpakaian putih sering menjadi bagian yang paling diingat.

Orang-orang membicarakan suara yang muncul dari luar kendaraan, bayangan yang terlihat sekilas, atau perasaan seperti sedang diperhatikan ketika melewati jalan yang sepi.

Seperti banyak urban legend, setiap penutur mempunyai tambahan cerita sendiri.

Ada yang mengatakan sosok itu hanya memperlihatkan diri kepada satu orang. Ada pula yang percaya ia lebih sering muncul ketika kabut mulai menutup jalan.

Tetapi cerita mengenai foto rombongan memiliki satu bagian yang sulit dilupakan.

Ketika seseorang akhirnya memperlihatkan gambar tersebut kepada pengemudi, pengemudi itu lama tidak berkata apa-apa.

Ia hanya menunjuk tempat perempuan itu berdiri.

"Waktu kita berhenti tadi," katanya pelan, "saya merasa ada seseorang yang memanggil dari arah sana."

"Lalu?"

"Saya tidak menoleh."

Mereka kembali memandang foto.

Di antara deretan wajah yang mereka kenal, bentuk pucat itu tetap terlihat.

Seolah seseorang telah memutuskan ikut berfoto, meskipun tidak pernah diajak.

Di Balik Kisah

Jalur offroad Sukawana–Cikole dan kawasan hutan di lereng Tangkuban Parahu memang mempunyai cerita mistis yang pernah diberitakan media.

Laporan Jakartasatu tahun 2014 memuat kisah pengalaman rombongan yang melintasi jalur tersebut menjelang malam. Sementara itu, pemberitaan iNews pada 2020 memuat cerita Yusuf, seorang pengemudi dari Land Rover Club Bandung, mengenai foto rombongan yang diduga memperlihatkan sosok asing menyerupai perempuan berpakaian putih.

Rangkaian kejadian, tokoh, dialog, dan detail foto dalam artikel Portal Masa ini merupakan dramatisasi berdasarkan motif cerita tersebut. Keberadaan sosok gaib tidak dapat dipastikan dari pemberitaan itu.