Di sebuah lembah yang sepi di Cisarua, ada cerita tentang bunyi gamelan yang datang dari arah air terjun. Orang mendengar ketukannya, tetapi tak pernah melihat siapa yang menabuh. Dan konon, ketika alunan itu semakin jelas, jangan terlalu yakin bahwa jalan pulang masih berada di tempat semula.

Pukulan itu terdengar tiga kali.

Tung. Tung. Tung.

Rahmat berhenti melangkah. Di depannya hanya ada jalan setapak yang basah, rumpun bambu, dan kabut yang turun makin rendah. Di belakangnya, kebun-kebun telah lenyap ditelan gelap.

Ia menoleh ke arah lembah. Mula-mula ia mengira ada hajatan di kampung seberang. Tetapi suara yang baru saja terdengar bukan berasal dari rumah penduduk. Suara itu datang dari bawah, dari tempat air terus jatuh tanpa mengenal malam.

Rahmat mengenal jalan ini. Sejak kecil ia biasa mengikuti orang-orang dewasa melewati kebun dan pinggiran hutan di kawasan Cisarua. Pada siang hari, jalur itu tak lebih dari tanah berbatu yang berkelok. Tetapi malam punya cara sendiri untuk mengubah sesuatu yang biasa menjadi asing.

Dan malam itu, ada yang tidak beres dengan suara air.

Ketukan dari Lembah

Hujan baru berhenti ketika Rahmat berangkat. Ia semula hanya ingin mengantar barang ke sebuah rumah di ujung kebun, kemudian kembali sebelum gelap. Urusannya terlambat. Ketika ia pulang, langit sudah tertutup awan, dan lentera kecil di tangannya menjadi satu-satunya cahaya di sepanjang jalan.

Beberapa saat sebelumnya ia masih mendengar gemuruh curug, suara panjang yang menyatu dengan angin dan dedaunan. Sekarang, di sela-sela gemuruh itu, terdengar nada-nada pendek yang teratur.

Ting ... tung ... ting ...

Seperti suara saron yang dipukul perlahan, disusul gong kecil dari kejauhan.

Rahmat mencoba mengingat apakah ada pesta di kampung bawah. Tidak ada kabar pernikahan. Tidak ada suara orang berbincang. Tidak ada teriakan anak-anak, bunyi piring, atau hiruk-pikuk orang memasak. Hanya gamelan. Bersih, teratur, dan ganjilnya terdengar lebih dekat daripada gemuruh air terjun.

Ia meneruskan langkah.

Belum jauh berjalan, lentera di tangannya bergetar diterpa angin dingin. Tanah yang tadi cukup rata mendadak menurun. Padahal Rahmat yakin jalan pulang seharusnya menanjak ke arah kebun.

Ia berhenti dan menengok ke belakang.

Dari arah Curug Panganten.

Curug Panganten
Curug Panganten

Jejak yang ditinggalkannya tertutup kabut. Pepohonan yang dikenalnya tidak terlihat. Ia mencoba memanggil nama seorang pemilik kebun yang rumahnya tidak terlalu jauh, tetapi suaranya hilang begitu saja, seolah diserap dinding hutan.

Lalu seseorang menjawab.

"Ka dieu ..."

Ke sini.

Suara perempuan itu lirih. Sangat dekat, seolah berbisik tepat dari balik pohon.

Rahmat mengangkat lentera. Tidak ada siapa-siapa.

"Saha?" tanyanya. "Siapa di sana?"

Tidak ada jawaban. Yang terdengar justru bunyi gong, panjang dan dalam, sampai tanah di bawah telapak kakinya seakan ikut bergetar.

Dua Air Terjun, Satu yang Hilang

Orang-orang mengenal Curug Panganten karena dua aliran airnya yang berdampingan. Yang satu lebih besar, yang lain dapat tampak kecil atau bahkan nyaris tak terlihat ketika air sedang surut. Dari kejauhan, keduanya menyerupai pasangan yang berdiri bersisian.

Tetapi yang dilihat Rahmat malam itu bukan dua.

Di sela kabut, air terjun yang besar masih tampak putih. Di sampingnya ada aliran kedua, lebih tipis, seperti helaian kain yang bergerak perlahan. Rahmat tak merasa telah berjalan sedekat itu ke curug. Ia bahkan belum melewati batu besar yang biasanya menjadi penanda belokan.

Yang lebih mengherankan, di antara kedua aliran air itu terdapat cahaya kekuningan.

Bukan cahaya bulan.

Seperti puluhan lampu minyak dinyalakan berjajar di atas tanah datar.

Gamelan kembali berbunyi, kali ini lengkap. Ada ketukan logam, nada panjang gong, dan irama lambat yang membuat Rahmat teringat pada arak-arakan pengantin yang pernah dilihatnya ketika kecil.

Ia menyipitkan mata.

Di balik kabut berdiri tiang-tiang tipis menyerupai hiasan pesta. Beberapa bayangan duduk membungkuk di dekat perangkat gamelan. Tetapi tak satu pun tampak bergerak saat bunyi terdengar.

Rahmat mengangkat lentera lebih tinggi.

Seketika seluruh bunyi berhenti.

Sunyi yang datang sesudahnya lebih menakutkan daripada suara tadi. Gemuruh curug pun seperti menjauh. Di tengah hutan, Rahmat bisa mendengar bunyi air menetes dari ujung daun tepat di samping telinganya.

Satu bayangan berdiri di dekat deretan lampu.

Putih. Diam. Kepalanya tertunduk.

Tak jauh darinya ada satu bayangan lain yang lebih tinggi, tetapi seakan terhalang tirai air. Keduanya menghadap ke arah yang berbeda, tidak saling memandang.

Lalu suara perempuan itu kembali terdengar.

"Nu hiji acan sumping."

Yang satu belum datang.

Rahmat merasakan tengkuknya dingin. Ia tak tahu apa yang dimaksud perempuan itu. Ia hanya tahu bahwa ketika ia berbalik untuk pulang, jalan setapak di belakangnya telah berubah menjadi undakan batu menuju tepi sungai.