Undangan yang Tidak Pernah Dikirim

"Punten," kata Rahmat, suaranya pecah. "Saya cuma lewat. Mau pulang."

Dari kabut terdengar ketukan pelan: satu, dua, tiga.

Ia tidak lagi bisa memastikan apakah bunyi itu berasal dari gamelan atau batu-batu yang beradu di bawah air.

Rahmat menarik napas, lalu berusaha mengingat arah datangnya. Ia memejamkan mata sebentar, membayangkan pagar kebun, pohon pisang di tikungan, dan sebuah saung yang atapnya miring. Semua penanda itu masih ada dalam ingatannya. Ia tidak boleh mengikuti apa pun yang tampak di depan.

Ketika membuka mata, deretan lampu kini berada lebih dekat.

Di atas batu besar, beberapa langkah darinya, tergeletak sehelai kain putih yang basah. Kain itu bergerak-gerak tertiup angin, padahal dedaunan di sekitarnya diam.

Rahmat mundur.

Dari balik air terjun terdengar suara orang-orang berbisik serempak. Tidak jelas kata-katanya. Lalu, di antara bisikan itu, muncul satu suara laki-laki.

"Tinggal hiji deui."

Tinggal satu lagi.

Rahmat menjatuhkan lenteranya.

Nyala api memantul di genangan. Sesaat ia melihat sosok-sosok yang tadi seperti duduk memainkan gamelan. Semuanya ternyata membelakangi alat musik. Tangan mereka berada di pangkuan. Tak seorang pun memukul apa-apa.

Tetapi gamelan itu berbunyi lagi.

Kali ini nadanya cepat. Terlalu cepat untuk irama penyambutan. Rahmat berjalan mundur, tersandung akar, lalu menahan diri pada batang pohon. Ia memilih menatap batang pohon itu, bukan cahaya di seberang. Dengan satu tangan meraba tanah, ia bergerak mengikuti lereng yang menanjak.

Di belakangnya suara perempuan memanggil semakin keras.

"Ulah angkat heula ..."

Jangan pergi dulu.

Rahmat terus naik. Suara gong mengejarnya melalui kabut, kemudian mendadak berhenti tepat ketika tangannya menyentuh anyaman bambu.

Ia berada di samping pagar kebun.

Saung beratap miring berdiri beberapa langkah di atasnya. Jalan pulang yang sejak tadi tidak ditemukan akhirnya muncul lagi, biasa dan sunyi, seolah tak pernah hilang.

Suara yang Terbawa Pulang

Rahmat tiba di rumah ketika lampu-lampu tetangga sudah padam. Bajunya lembap. Telapak kakinya penuh tanah. Ia tak mampu menjelaskan mengapa perjalanan singkat dari kebun terasa seperti berjam-jam.

Seorang anggota keluarganya terbangun mendengar pintu dibuka.

"Ti mana wae? Dari mana saja?"

"Tadi kesasar," jawab Rahmat. "Dekat curug."

Orang itu memperhatikan wajahnya, lalu bertanya dengan suara lebih pelan, "Dengar sesuatu?"

Rahmat tidak langsung menjawab.

"Gamelan," katanya akhirnya. "Ada orang hajatan di bawah?"

Tak ada jawaban. Orang di depannya hanya mengunci pintu dan menyuruhnya beristirahat.

Rahmat berusaha tidur. Ia memejamkan mata sambil mendengarkan suara air yang menetes dari ujung atap rumah. Setelah beberapa lama, bunyi tetesan itu mulai terdengar teratur.

Ting ... tung ... ting ...

Rahmat membuka mata.

Bukan hujan. Bunyi itu datang dari halaman.

Ia menahan napas. Melalui celah jendela, ia melihat cahaya kekuningan bergerak di sisi pagar. Di bawahnya tampak dua bayangan berdiri berdekatan: yang satu tinggi, yang lain lebih kecil.

Lalu terdengar bisikan yang sama seperti di curug.

"Ayeuna tos lengkep."

Sekarang sudah lengkap.

Pagi harinya, pagar itu tetap berada di tempatnya. Tak ada lampu, tak ada jejak orang, dan tentu saja tak ada perangkat gamelan. Yang tersisa hanya lentera Rahmat, diletakkan rapi di depan pintu.

Padahal ia yakin telah meninggalkannya di dekat air terjun.

Di bawah pegangan lentera tersangkut seutas benang putih yang masih basah.

Sejak malam itu, setiap kali angin turun dari arah lembah dan bunyi curug terdengar lebih jauh dari biasanya, Rahmat memilih menutup jendela sebelum gelap.

Bukan karena ia takut mendengar gamelan lagi.

Melainkan karena ia tak ingin tahu siapa yang malam itu telah mengantarkan lenteranya pulang.

Jejak Cerita Lisan di Balik Kisah

Curug Panganten benar-benar berada di Desa Padaasih, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Air terjun ini juga dikenal dalam sejumlah penuturan dengan nama lama Curug Manglayang. Tulisan perjalanan Jetro Limbong yang diterbitkan pada 16 Desember 2007 mencatat penjelasan sejumlah warga tentang nama tersebut dan cerita sepasang pengantin yang dikaitkan dengan curug. Versi asal nama di berbagai sumber tidak sepenuhnya sama.

Sebuah tulisan wisata pada Juli 2014 juga mencatat kisah suara gamelan yang konon terdengar dari kawasan Curug Panganten, tanpa terlihat siapa yang memainkannya. Sementara itu, tulisan perjalanan tahun 2016 menyebut versi lain bahwa nama Panganten berkaitan dengan dua aliran air yang berdampingan menyerupai pasangan.

Catatan redaksi: Kisah Rahmat, dialog, lentera, bayangan di dekat air terjun, serta peristiwa dalam narasi merupakan adaptasi horor fiktif dari motif-motif cerita lisan tersebut. Tidak ada bukti terverifikasi bahwa kejadian yang dialami Rahmat benar-benar pernah terjadi. Cerita ini diterbitkan untuk mendokumentasikan dan menghidupkan kembali folklor lokal, bukan untuk menetapkan peristiwa gaib sebagai fakta.