Juni 1928 menjadi salah satu penanda penting bagi Observatorium Bosscha: teleskop refraktor ganda Zeiss diserahkan untuk pekerjaan astronomi. Di bawah kubah yang sekarang menjadi lambang observatorium itu ada instrumen dengan dua jalur optik, bukan sekadar dua lensa hiasan pada satu tabung.
Objek di langit tidak berubah hanya karena sebuah alat baru tiba. Tetapi cara ilmuwan mengamatinya berubah. Cahaya yang ditangkap teleskop perlu dipandu, direkam, dan dianalisis. Detail semacam ini membuat sejarah teleskop lebih dari daftar tahun pembelian: alat dan manusia bekerja bersama agar pengamatan dapat dilakukan berulang dengan hasil yang bisa dibandingkan.
Kalau seseorang berkunjung ke Observatorium Bosscha dan melihat bangunan berkubah putih, mungkin ia mengira semua teleskop besar bekerja dengan cara yang sama. Padahal, alat di dalam kubah ikonik itu memiliki keunikan yang mudah membuat orang penasaran: namanya Teleskop Refraktor Ganda Zeiss.
Ganda? Apakah artinya terdapat dua teleskop yang digunakan bersebelahan?
Secara sederhana, ya, instrumen ini memiliki dua jalur optik dengan lensa objektif terpisah yang dipasang sejajar dalam satu perangkat. Keduanya membantu para astronom melakukan pekerjaan pengamatan yang membutuhkan ketelitian tinggi. Bagian yang terlihat di foto lama dan foto masa kini pun tampak berbeda dari teleskop mungil di rumah.
Pada 7 Juni 1928, K.A.R. Bosscha secara resmi menyerahkan fasilitas teleskop Zeiss kepada perkumpulan astronomi yang mengelola observatorium. Penyerahan itu disaksikan Gubernur Jenderal Hindia Belanda A.C.D. de Graeff. Menurut rilis resmi Bosscha, teleskop tersebut termasuk fasilitas pengamatan yang sangat maju pada zamannya.
Penting diingat, observatorium telah diresmikan beberapa tahun sebelumnya, yakni 1923. Jadi kubah dan teleskop yang menjadi simbol Bosscha sekarang bukan berarti seluruh kegiatan astronomi di sana baru dimulai pada 1928. Pengembangan suatu observatorium berlangsung bertahap.
Lalu untuk apa teleskop sebesar itu dibuat? Salah satu program pentingnya adalah pengamatan bintang ganda. Dari Bumi, ada pasangan bintang yang tampak berdekatan di langit. Para astronom ingin mengetahui posisi keduanya dengan teliti, kemudian mempelajari bagaimana mereka bergerak sepanjang waktu.
Tugas seperti itu memerlukan kesabaran. Satu malam yang cerah dapat menghasilkan data, tetapi perubahan posisi bintang juga harus diamati berulang kali. Kadang kisah sains yang paling penting bukan sebuah penemuan mendadak, melainkan hasil pencatatan yang dilakukan terus-menerus.
Ketika foto observatorium tersebar di media sosial, kubahnya sering menjadi bagian yang paling mencuri perhatian. Bentuk bangunannya memang mudah dikenali. Namun, kisah alat di dalamnya sama menariknya dengan arsitektur luar.
Nama Zeiss juga memberi petunjuk tentang jaringan internasional di balik pengadaan peralatan ilmiah masa itu. Observatorium di pegunungan Jawa menggunakan instrumen yang dibuat melalui tradisi industri optik Eropa, lalu dipakai untuk menghasilkan pengamatan dari langit belahan selatan.
Coba bayangkan perbedaan antara satu foto biasa dan pengamatan ilmiah. Foto dapat membuat kita berkata, “Wah, bagus sekali bintangnya.” Data pengamatan dapat membantu menjawab pertanyaan yang jauh lebih rumit: apakah dua titik cahaya itu saling berhubungan, bagaimana posisinya berubah, dan apa yang dapat dipelajari dari perubahan tersebut?
Jadi, lain kali melihat kubah Bosscha, ingat bahwa bangunan itu adalah rumah bagi sepasang “mata” pengamat langit yang memiliki riwayat panjang sejak 1928.
Apa artinya disebut teleskop ganda?
Teleskop Zeiss di Bosscha dikenal sebagai refraktor ganda karena mempunyai dua perangkat optik utama yang dipasang sejajar. Refraktor bekerja dengan lensa, berbeda dari teleskop reflektor yang menggunakan cermin. Kedua jalur optik memungkinkan kebutuhan pengamatan yang berlainan dalam satu sistem besar. Situs Bosscha menjelaskan pula keberadaan teleskop pencari yang membantu mengarahkan instrumen. Penjelasan teknis ini penting karena dari luar orang mungkin hanya melihat kubah, bukan susunan alat di dalamnya.
Bangunan berkubah membutuhkan pekerjaan teknik tersendiri: mekanisme putar, bukaan yang bisa diarahkan ke langit, serta dudukan berat yang tetap stabil ketika instrumen bergerak. Itu bukan latar dekoratif. Bagi pengamat, kemampuan mengarahkan teleskop secara teliti menentukan apakah objek langit dapat terus diikuti dalam jangka pengamatan. Namun artikel populer tidak perlu mengklaim ketelitian angka tertentu apabila spesifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan tidak tersedia.

Dua tanggal yang tidak boleh tertukar
Bosscha diresmikan pada 1 Januari 1923, sedangkan teleskop refraktor ganda Zeiss secara resmi diserahkan kepada NISV pada 7 Juni 1928. Jarak lima tahun ini mudah terlupakan ketika seluruh sejarah diringkas menjadi satu kalimat. Padahal kisah peralatan ilmiah mempunyai jadwalnya sendiri: pengadaan, pengiriman, pembangunan gedung, pemasangan, pengujian, dan kemudian pengamatan. Setiap tahap melibatkan orang dengan keahlian berbeda.
Perayaan 90 tahun teleskop pada 2018 membantu memastikan tahun penyerahan resminya. Cerita resmi juga mencatat bahwa pengamatan bintang ganda menjadi salah satu program prioritas. Sebutan 'bintang ganda' merujuk pasangan bintang yang diamati sebagai bagian penelitian astronomi, bukan berarti teleskop memiliki dua kamera untuk mengambil foto panorama biasa.
Bangunan tua, kerja ilmiah yang terus berubah
Instrumen berusia puluhan tahun tidak serta-merta berubah menjadi pajangan museum. Bosscha menerangkan bahwa pemakaian pelat fotografi pernah berlangsung hingga dekade 1980-an, sebelum teknik detektor digital berkembang dalam pekerjaan pengamatan. Perubahan semacam itu memperlihatkan bagaimana alat lama dapat memperoleh perangkat dan metode baru. Berbagai komponen harus dirawat agar kerja ilmiah masih mungkin dilakukan.
Di sisi lain, umur instrumen juga berarti keterbatasan. Ilmu astronomi modern memiliki beragam observatorium dan teknologi yang tidak bisa disamakan hanya dari ukuran lensa. Oleh sebab itu, frasa 'yang terbesar' harus selalu diberi konteks waktu, wilayah, dan tipe alat. Sejarah bukan lomba mempertahankan gelar tertinggi sepanjang zaman.
Potret yang benar untuk mengiringi cerita
Sumber foto teleskop sebaiknya berasal dari Bosscha atau arsip yang mengidentifikasi alat dengan pasti. Gambar kubah luar dapat dipakai sebagai pembuka, tetapi tidak membuktikan bentuk dua lensa di dalamnya. Diagram optik yang dibuat ulang oleh redaksi boleh membantu memahami letaknya, dengan caption 'skema sederhana, tidak berskala'. Jika suatu foto arsip menyebut tahun pemasangan, tanggal itu harus diverifikasi lagi sebelum dipajang.
Pada akhirnya, teleskop Zeiss menarik bukan hanya karena ukurannya. Di balik dua tabung optik ada lembaga, teknisi, peneliti, dan ketekunan merawat instrumen untuk memahami benda yang amat jauh. Sejarah sains menjadi nyata ketika kita mengingat bahwa hasil pengamatan membutuhkan peralatan dan orang-orang yang bekerja bersama.
Apa yang benar-benar tercatat pada spesifikasi instrumen?
Laman instrumen resmi Observatorium Bosscha menyebut Teleskop Refraktor Ganda Zeiss mempunyai dua lensa objektif berdiameter 0,6 meter dan panjang fokus sekitar 10,8 meter. Dua jalur optiknya memungkinkan kebutuhan pengamatan astronomi yang berbeda dalam satu pemasangan; teleskop itu bukan 'dua kubah' dan bukan pula sepasang teropong genggam yang sekadar dibesarkan. Laman yang sama menyebut fasilitas beserta teleskopnya secara resmi diserahkan kepada NISV pada Juni 1928. Rincian teknis ini lebih berguna daripada hanya menyebut 'teleskop raksasa' tanpa angka, sebab pembaca memperoleh gambaran ukuran instrumen yang sebenarnya. Pernyataan bahwa instrumen masih dimodernisasi juga perlu ditempatkan bersama perkembangan sistem detektornya, bukan seolah seluruh bagian mesin tetap identik selama hampir satu abad.
Baca juga di Portal Masa
Ide Observatorium Bosscha Berawal dari Hotel di Bandung · Sebelum GPS, Lembang Ikut Mengukur Dunia
Catatan
Teleskop Zeiss memang dikenal sebagai refraktor ganda. Penjelasan di atas disederhanakan untuk pembaca umum; rincian instrumen dan sejarahnya dirujuk dari Observatorium Bosscha ITB. Julukan “mata” dipakai sebagai metafora, bukan istilah teknis.

