Sebuah papan nama di kawasan wisata Parongpong dapat dibaca seperti soal berhitung: Curug Tilu Leuwi Opat. Bukan nama orang atau peristiwa perang, melainkan empat kata Sunda yang menggambarkan aliran air. Curug berarti air terjun; leuwi menunjuk bagian aliran yang menyerupai lubuk. Tilu dan opat adalah tiga dan empat.
Kata-kata itu mengajak kita mengamati lingkungan, bukan hanya membaca reklame. Namun kondisi tempat wisata hari ini tidak harus memperlihatkan seluruh hitungan lama dengan cara yang persis sama. Jalur pengunjung, penamaan lokal, dan keadaan aliran air dapat membuat orang melihatnya dari sudut berbeda. Karena itu sebuah nama menarik justru perlu diikuti dengan pemeriksaan lokasi, bukan menebak bahwa semua objeknya selalu dapat dilihat sekaligus.
Kalau seorang anak mendengar nama Curug Tilu Leuwi Opat untuk pertama kali, mungkin ia akan bertanya: mengapa tempat wisata ini memakai angka tiga dan empat sekaligus?
Jawabannya ternyata ada di dalam bahasa Sunda. Curug berarti air terjun, tilu berarti tiga, leuwi merujuk pada bagian sungai yang membentuk lubuk atau kolam, sedangkan opat berarti empat. Jadi, namanya mengajak kita membayangkan tiga curug dan empat leuwi.
Lokasinya berada di Desa Cihanjuang Rahayu, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat. Kawasan ini merupakan bagian dari lanskap Ciwangun yang dikenal dengan aliran sungai, hutan, dan wisata alam.
Tetapi apakah angka pada nama tempat selalu berarti jumlah yang dapat dihitung persis sama dalam setiap penuturan? Belum tentu. Nama tempat bisa lahir dari pengamatan awal, lalu bertahan meskipun cara orang membagi dan menamai bagian-bagian alam berubah.
Dalam keterangan resmi desa, Curug Tilu Leuwi Opat dipaparkan sebagai kawasan dengan tiga air terjun dan empat leuwi. Sementara itu, salah satu prosiding ilmiah yang meneliti vegetasi kawasan tersebut menyebut empat nama curug, empat leuwi, dan dua gua. Perbedaan semacam ini menarik justru karena membuka pertanyaan: apakah nama wisata menghitung rangkaian utama, sedangkan penelitian mendata seluruh objek yang ada?
Daripada menyembunyikan perbedaan tersebut, kita bisa menikmatinya sebagai alasan untuk mengenal tempat lebih saksama. Pada sebuah peta, nama dapat mewakili keseluruhan kawasan, sementara dalam percakapan warga, setiap aliran air mempunyai namanya sendiri.
Ada Leuwi Gentong, Leuwi Baeud, Leuwi Bagong, dan Leuwi Kacapi yang disebut dalam salah satu tulisan perjalanan. Nama-nama itu memperlihatkan kekayaan cara masyarakat menandai alam. Sebuah lubuk tidak cuma disebut “kolam nomor satu”, tetapi diberi identitas yang mudah diingat.
Bagi orang yang hidup dekat sungai, perbedaan antara curug dan leuwi sangat masuk akal. Curug mengingatkan pada air yang jatuh dari tempat lebih tinggi. Leuwi mengacu pada bagian aliran yang membentuk cekungan. Satu sungai dapat memiliki keduanya.
Kita pun bisa memahami mengapa tradisi memberi nama tempat sangat penting sebelum aplikasi peta tersedia. Orang menggunakan benda, bentuk lahan, bunyi, dan pengalaman sehari-hari untuk mengenali lokasi. Sebuah nama merupakan petunjuk sekaligus pengingat.
Dalam laporan perjalanan modern, kawasan Curug Tilu Leuwi Opat disebut mulai dibuka sebagai tujuan wisata sekitar 2006 setelah sebelumnya dikenal sebagai lahan yang kurang produktif. Artinya, bentang alam yang telah lama ada memperoleh cara baru untuk dikenali masyarakat luas.
Siapa sangka, nama wisata yang sekilas terdengar seperti permainan berhitung ternyata dapat menjadi pintu masuk mempelajari bahasa Sunda, topografi sungai, dan perubahan pemanfaatan tempat?
Angka dalam nama, petunjuk atau janji?
Bagi penutur Sunda, tilu berarti tiga dan opat berarti empat. Curug menunjuk air terjun, sementara leuwi lazim dipakai untuk bagian sungai yang dalam atau berupa lubuk. Dengan demikian, nama Curug Tilu Leuwi Opat mengundang orang membayangkan tiga air terjun dan empat lubuk. Namun nama tempat bukan hasil survei hidrologi otomatis. Jumlah objek yang dapat dihitung pengunjung bisa bergantung pada batas kawasan, musim, penamaan warga, serta arah jelajah yang digunakan pengelola.
Itulah sebabnya daftar curug atau leuwi yang ditemukan dalam berbagai tulisan belum tentu persis sama. Daripada memaksa semuanya cocok dengan angka dalam nama, artikel dapat menjelaskan cara penamaan bekerja. Sebuah nama memudahkan lokasi diingat, sedangkan inventaris ilmiah atau pengelolaan wisata membutuhkan peta, identifikasi titik, dan pemeriksaan lapangan.

Sebuah nama yang mengajarkan kosakata air
Di daerah pegunungan, air tidak selalu muncul dalam bentuk kolam yang tenang. Ia dapat jatuh dari tebing, bergerak cepat melalui batuan, lalu melambat menjadi lubuk di sisi lain. Bahasa setempat membedakan beberapa bagian aliran itu. Ketika istilah curug dan leuwi dipertahankan pada nama destinasi, pengunjung sekaligus bertemu cara masyarakat membaca bentuk sungai.
Pengalaman menyaksikan beberapa air terjun pada jalur yang sama tidak sama dengan kepastian bahwa seluruh nama dan jumlah sudah diterima semua penduduk. Sebagian penamaan berasal dari pengelolaan wisata yang relatif baru; sebagian mungkin memiliki riwayat lisan lebih panjang. Bila tidak tersedia arsip waktu penamaan yang lebih tua, tanggal asal nama tidak sebaiknya direka. Pernyataan yang lebih akurat adalah 'kawasan ini dikenal sekarang dengan nama tersebut'.
Parongpong dan perubahan fungsi tempat
Curug Tilu Leuwi Opat berada di kawasan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat. Kehadiran tempat wisata alam membuat satu sudut wilayah yang sebelumnya lebih banyak dikenal warga setempat mulai disebut dalam informasi perjalanan. Liputan tentang perkembangan destinasi dapat membantu menelusuri perubahan itu. Namun liputan wisata bukan bukti bahwa setiap air terjun baru ditemukan pada tahun terbit berita; aliran airnya tentu mempunyai sejarah alam yang berbeda dari sejarah promosi wisata.
Ketika foto kawasan dicantumkan, penting menyebut objek yang benar-benar tampak. Foto 'air terjun di kawasan Curug Tilu Leuwi Opat' lebih tepat daripada memberi nama Curug A atau Leuwi B yang belum diverifikasi. Peta skematis sebaiknya hanya mengelompokkan istilah 'tiga curug' dan 'empat leuwi', bukan menggambar rute seolah dapat diikuti di lapangan jika jalurnya belum disurvei.
Membaca sungai tanpa menjadikannya teka-teki yang menyesatkan
Ada godaan untuk mengubah nama wisata menjadi tantangan: pengunjung harus menemukan seluruh titik agar dianggap berhasil. Padahal sungai pegunungan bisa berubah kondisinya; beberapa bagian mungkin tidak aman didatangi atau tidak dibuka bagi umum. Informasi akses harus datang dari pengelola serta petunjuk resmi terbaru, bukan disimpulkan dari cerita artikel.
Nilai sejarah-budaya yang dapat diangkat justru terletak pada nama. Ia menunjukkan bahwa Bahasa Sunda menyimpan istilah yang cermat untuk bentang air, dan bahwa angka dapat membuat suatu tempat mudah dibicarakan. Pembaca pulang bukan hanya membawa daftar objek, tetapi pengetahuan bahwa kata-kata lokal lahir dari keakraban manusia dengan aliran sungai.
Baca juga di Portal Masa
Si Rawing, Ikan Mas Misterius dari Situ Cijeruk
Catatan
Penjelasan dasar nama merujuk pada website resmi Desa Cihanjuang Rahayu. Jumlah objek alam tidak selalu ditulis sama dalam sumber yang berbeda, sehingga jangan menganggap setiap angka sebagai inventaris lapangan final. Informasi pembukaan wisata sekitar 2006 bersumber dari wawancara pengelola yang dimuat detikTravel.

