Orang yang datang ke puncak Tangkuban Parahu biasanya paling mengenal Kawah Ratu. Dari tepi kawasan wisata, bentang kawah tampak luas dan menjadi pusat perhatian. Namun gunung api tidak hanya mempunyai satu lubang yang dapat terlihat dari satu titik pandang. Catatan badan geologi memuat nama-nama kawah lain, termasuk Kawah Upas.
Ada hal yang membuat pembacaan arsip semakin menarik: sebagian dokumen resmi menyebut sembilan kawah, tetapi daftar namanya pada salah satu publikasi justru berjumlah sepuluh. Daripada memilih angka yang tampak paling mudah, kita perlu melihat bagaimana sumber tersebut menyusun daftarnya. Di sini cerita tentang gunung berubah menjadi cerita tentang cara pengetahuan dicatat dan diperiksa ulang.
Bila mendengar Gunung Tangkuban Parahu, banyak orang langsung membayangkan pemandangan Kawah Ratu. Kawah besar itu memang menjadi salah satu ikon wisata Bandung utara. Tetapi pernahkah terpikir berapa banyak kawah yang sebenarnya dimiliki gunung ini?
Jawabannya menarik: dalam keterangan Badan Geologi, Tangkuban Parahu memiliki sembilan kawah. Dua kawah utama di kawasan puncaknya ialah Kawah Ratu dan Kawah Upas. Nama-nama kawah lainnya juga muncul dalam catatan penyelidikan geologi.
Siapa sangka, sebuah gunung yang sering disebut dalam dongeng Sangkuriang ternyata menyimpan begitu banyak bagian dengan nama masing-masing?
Bagi seseorang yang hanya melihat gunung dari jalan menuju Lembang, jumlah tersebut mungkin mengejutkan. Dari kejauhan, bentuk gunung tampak seperti satu punggungan besar. Padahal, aktivitas gunung api dapat menghasilkan bentuk permukaan yang lebih rumit daripada satu lubang tunggal di puncak.
Tangkuban Parahu merupakan gunung api aktif. Di bawah dan di sekitar kawah berlangsung proses geologi yang tidak selalu terlihat oleh pengunjung. Panas di bawah permukaan dapat berinteraksi dengan air tanah. Uap dan gas pun dapat keluar melalui celah-celah di sekitar kawah.
Badan Geologi mencatat bahwa letusan yang umum terjadi di Kawah Ratu bersifat freatik, yakni berkaitan dengan tekanan uap air akibat pemanasan air di bawah permukaan. Peristiwa semacam itu berbeda dari gambaran populer letusan gunung yang selalu memperlihatkan aliran lava menyala.
Pada 2019, misalnya, aktivitas erupsi Tangkuban Parahu kembali menjadi perhatian. Pemerintah melakukan pemantauan dan mengeluarkan informasi resmi. Ini mengingatkan kita bahwa gunung bukan sekadar latar foto, melainkan lingkungan alam yang terus berubah.
Jika suatu hari membaca legenda Sangkuriang, kita akan menjumpai kisah perahu besar yang terbalik. Kalau membaca penjelasan geologi, kita bertemu cerita lain: pergerakan material bumi, panas, uap, dan pembentukan kawah. Dua cara bercerita ini menjawab pertanyaan yang berbeda.
Legenda menjelaskan bagaimana masyarakat memberi makna pada bentuk gunung. Geologi menjelaskan bagaimana bagian-bagian gunung dapat terbentuk dan berubah secara alamiah. Keduanya menarik, asalkan tidak dicampurkan seolah mempunyai jenis bukti yang sama.
Dan angka sembilan memberi ide permainan sederhana untuk sebuah wahana sejarah: bisakah kita menemukan nama-nama kawah Tangkuban Parahu pada peta? Mana yang berada dekat kawasan yang biasa dikunjungi wisatawan, dan mana yang hanya terlihat dalam catatan geologi?
Mungkin tidak semua kawah bisa atau boleh didatangi. Kondisi dan pembatasan kawasan dapat berubah mengikuti aktivitas gunung. Justru karena itu, peta dan arsip menjadi cara aman untuk menjelajah lebih jauh tanpa harus masuk ke tempat yang berbahaya.
Sembilan atau sepuluh? Membaca daftar dengan hati-hati
Ada persoalan kecil tetapi penting dalam sumber geologi tentang Tangkuban Parahu. Sejumlah entri katalog Badan Geologi menggunakan ungkapan 'sembilan kawah' untuk bagian puncaknya. Namun ketika nama-namanya dihitung satu demi satu, daftar yang muncul mencakup Kawah Ratu, Upas, Baru, Lanang, Ecoma, Jurig, Siluman, Domas, Jarian, dan Panguyangan Badak: sepuluh nama. Perbedaan antara jumlah dalam kalimat dan jumlah nama tersebut harus ditunjukkan secara terbuka, bukan disembunyikan dengan menghapus satu nama secara sewenang-wenang.
Mungkin ada pengelompokan kawah atau perbedaan penamaan pada masa tertentu, tetapi sebab pastinya belum dapat dipastikan hanya dari cuplikan katalog. Itulah mengapa angka pada judul populer harus diperlakukan sebagai angka yang digunakan sebagian publikasi, bukan sebuah sensus yang tak mungkin berbeda. Sebelum membuat infografik jumlah kawah, redaksi memerlukan laporan atau peta vulkanologi asli yang menerangkan klasifikasinya.

Kawah yang terkenal dan kawah yang jarang disebut
Kawah Ratu dan Kawah Upas biasanya menjadi nama yang paling mudah dikenali pengunjung. Kawah lain berada dalam konteks sistem gunung api yang lebih luas, dan tidak semua dapat atau boleh diakses wisatawan. Nama yang tercatat dalam laporan bukan petunjuk untuk berjalan mendekatinya. Kondisi gas, tanah, serta aktivitas gunung dapat berubah; keselamatan pengunjung harus mengikuti informasi pengelola kawasan dan otoritas vulkanologi terbaru.
Beberapa nama juga memberi gambaran mengenai bahasa setempat: kata ratu, upas, jurig, atau siluman dapat membawa asosiasi budaya yang berlainan. Namun dari nama itu saja kita tidak bisa menyimpulkan alasan geologi penamaan atau menciptakan cerita rakyat baru. Sejarah asal nama memerlukan dokumen, peta lama, atau penuturan yang dapat ditelusuri.
Gunung aktif bukan gambar diam
Tangkuban Parahu merupakan gunung api aktif. Riwayat aktivitasnya dicatat secara teknis oleh lembaga pengamatan; penjelasan mengenai letusan, gas, dan kawah merupakan bidang vulkanologi. Pusat perhatian artikel sejarah alam bukan mencari pemandangan paling dramatis, melainkan memahami bahwa bentuk gunung berubah dalam skala waktu yang beragam. Sebuah kawah dapat mengalami aktivitas berbeda dari bagian lain pada waktu tertentu.
Peta wisata, foto udara, dan laporan pemantauan memiliki fungsi berbeda. Peta wisata menjelaskan jalur yang dibuka, foto memperlihatkan kondisi pada saat dipotret, sedangkan laporan pemantauan memuat temuan teknis. Tak satu pun boleh dipakai secara asal untuk menggantikan yang lain. Foto tua pun perlu mencantumkan tahun serta nama kawah berdasarkan katalog arsip yang valid.
Legenda perahu dan riset vulkanik
Nama Tangkuban Parahu sangat lekat dengan kisah Sangkuriang dan perahu yang terbalik. Legenda itu tetap penting sebagai tradisi sastra Sunda, tetapi tidak dapat dipakai untuk menetapkan asal fisik kawah. Pembentukan bentang gunung berkaitan dengan proses vulkanik yang diteliti melalui batuan, lapisan endapan, dan data pengamatan. Kedua cerita tentang tempat yang sama ini mempunyai kedudukan berbeda: satu menerangkan warisan budaya, satu lagi mendalami alam.
Dengan membaca perbedaan angka daftar kawah secara terbuka, kita sekaligus belajar cara membaca sumber sejarah dan sains. Sebuah sumber resmi tetap dapat mengandung ringkasan yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Mengaku belum tahu lebih baik daripada mengubah 'sembilan' menjadi keterangan palsu yang tampak rapi.
Dua keterangan resmi tidak menulis angka dengan cara sama
Dalam keterangan pemantauan yang dikeluarkan Badan Geologi pada 1 Juli 2025, disebutkan bahwa Tangkuban Parahu memiliki sembilan kawah dan dua yang utama di kawasan puncak adalah Ratu dan Upas. Sementara itu, rilis pemeriksaan kawah 13 Februari 2023 mencantumkan sepuluh nama: Ratu, Upas, Baru, Lanang, Ecoma, Jurig, Siluman, Domas, Jarian, serta Pangguyangan Badak. Keduanya berasal dari lembaga resmi, tetapi satu adalah pernyataan jumlah dan yang lain daftar nama. Maka judul artikel tidak lagi mengunci angka sembilan sebagai jawaban final. Untuk menentukan apakah ada perbedaan klasifikasi, kelompok kawah, atau kekeliruan redaksi, diperlukan peta dan laporan geologi yang menguraikan pengelompokan tersebut. Sampai itu dilakukan, angka dan daftar nama sebaiknya ditampilkan bersama batas penjelasannya.
Baca juga di Portal Masa
Sangkuriang dan Perahu yang Tak Pernah Berlayar · [Burangrang dan Bukit Tunggul, Sisa Pekerjaan Sangkuriang](/cerita/burangrang-dan-bukit-tunggul-menurut kisah rakyat, -keduanya-berasal-dari-pekerjaan-sangkuriang)
Catatan
Jumlah sembilan kawah, status gunung aktif, dan informasi letusan freatik merujuk pada Badan Geologi. Kondisi akses wisata tidak dibahas sebagai informasi terkini; pengunjung harus mengikuti pengumuman resmi pengelola dan otoritas gunung api.

