Ada masa ketika sejarah sebuah tempat hanya menyisakan satu baris. Bukan lukisan tentang kampung, bukan kisah seorang pendiri, melainkan nama yang ditulis oleh petugas yang sedang menghitung penduduk dan kewajiban mereka. Untuk Lemback, baris itu datang dari tahun 1686. Di tengah daftar permukiman Distrik Bandongh, terbaca tiga unsur yang kini mengundang banyak pertanyaan: Lemback | Singamarta | 5.

Siapa Singamarta? Di mana persisnya Lemback? Dan apa arti angka lima itu? Arsip memberi jawaban yang terbatas, tetapi justru batas itulah yang membuat ceritanya menarik. Kita sedang melihat Lembang dan kawasan sekitarnya dari jarak lebih dari tiga abad, ketika belum ada jalan wisata, perkebunan kina modern, hotel, maupun observatorium.

Sebuah daftar yang tidak dibuat untuk bercerita

Dua pejabat VOC, Claes Hendriksz dan Jan Carstensz, menyusun pendataan Priangan pada 1686. Dalam terbitan Arsip Nasional Republik Indonesia, dokumen ini diperkenalkan sebagai daftar desa atau permukiman, kepala setempat, keluarga, upeti, serta penghasilan. Tujuannya praktis: penguasa kolonial ingin mengetahui siapa berada di bawah kewenangan siapa, apa yang dapat dihasilkan sebuah wilayah, dan kewajiban apa yang mungkin ditagih.

Karena maksudnya administratif, banyak hal yang hari ini ingin kita ketahui tidak dicatat. Tidak ada kisah masa kecil Singamarta. Tidak dijelaskan seperti apa rumah warga, di mana mereka mengolah tanah, atau bagaimana mereka menjalani hari. Petugas pencatat lebih tertarik pada satuan-satuan yang dapat dihitung daripada kehidupan yang mengisi satuan itu.

Namun sebuah daftar pun dapat berbicara, asal kolomnya dibaca dengan benar. Pada bagian Distrik Bandongh, Lemback muncul bersama nama Singamarta dan angka lima. Dari susunan tabel serta penjelasan penyunting dokumen, Singamarta ditempatkan sebagai kepala permukiman. Angka lima berada pada kolom keluarga atau unit cacah yang dibukukan.

Lima itu bukan lima orang

Kesalahpahaman paling mudah muncul dari angka terakhir. Orang bisa tergoda membayangkan Lemback pada 1686 hanya dihuni lima jiwa. Padahal dokumen berbicara dalam bahasa administrasi: keluarga, cacah, atau somah. Sebuah unit yang berkaitan dengan rumah tangga dan tanggungan tidak sama dengan satu manusia.

Berapa jumlah seluruh penghuni? Arsip ini tidak memberitahukannya. Mengalikan lima dengan perkiraan jumlah anggota keluarga masa kini juga tidak menghasilkan angka sejarah yang sah. Untuk sementara, pernyataan yang dapat dipertanggungjawabkan tetap sederhana: Lemback tercatat dengan lima unit keluarga/cacah, bukan lima penduduk.

Angka sekecil itu juga tidak membuktikan bahwa seluruh kawasan Lembang modern berasal dari lima keluarga tersebut. Wilayah administrasi berubah, penduduk dapat berpindah, dan orang yang tidak tercakup oleh kategori pencatat mungkin tidak terlihat dalam daftar. Arsip menunjukkan apa yang dihitung; ia belum tentu menunjukkan seluruh kehidupan yang ada.

Singamarta, seorang kepala yang baru kita kenal namanya

Nama Singamarta menjadi satu-satunya pintu masuk menuju seorang manusia dalam baris tersebut. Dokumen menempatkannya sebagai kepala Lemback. Itu sudah cukup untuk mengatakan bahwa pada 1686 ada seorang pemimpin setempat yang dikenal oleh pencatat VOC.

Tetapi di luar keterangan itu, riwayat pribadinya belum ditemukan. Tidak ada sumber yang telah memastikan usianya, keluarganya, lamanya memimpin, maupun letak kediamannya. Menjadikannya pendiri pertama Lembang atau menciptakan adegan-adegan tentang kehidupannya akan menghasilkan cerita menarik, tetapi bukan tulisan sejarah berbasis arsip.

Kita boleh membayangkan betapa berbeda kehidupan di Priangan ketika itu, selama jelas bahwa gambaran tersebut berasal dari konteks zaman, bukan kesaksian mengenai Singamarta sendiri. Permukiman dapat berkembang dan berpindah mengikuti kegiatan pertanian, hubungan kuasa, serta tekanan kewajiban. Dalam dunia semacam itu, seorang kepala setempat mungkin memiliki tanggung jawab yang tidak sesederhana jabatan dalam pemerintahan desa sekarang. Apa persis tanggung jawab Singamarta masih merupakan pertanyaan riset.

Lemback di antara nama-nama Priangan

Lemback tidak berdiri sendirian dalam daftar. Bagian Bandongh memuat nama-nama lain dengan ejaan abad ke-17, termasuk bentuk seperti Paroengh dan Passirhipis. Kedekatan mereka dalam sebuah daftar membuka kemungkinan untuk merekonstruksi jaringan permukiman, tetapi belum menjadi peta lokasi.

Kita perlu berhati-hati ketika membaca nama yang terdengar akrab. Sebuah nama bisa berubah ejaan, bergeser penggunaan, atau melekat pada tempat berbeda. Paroengh tidak otomatis bisa dipakukan ke sebuah titik modern hanya karena bunyinya mirip. Begitu juga Lemback: namanya penting, tetapi satu baris tidak menyertakan koordinat.

Pertanyaan apakah Lemback merupakan cikal bakal Lembang modern tetap sangat masuk akal untuk diteliti. Nama dan konteks geografisnya memang mengarah ke sana. Hanya saja, pembuktian kesinambungan lokasi dan permukiman memerlukan sumber penghubung dari abad-abad berikutnya.

Nama itu terdengar lagi hampir dua abad kemudian

Pada 1866, pelancong Prancis Ludovic de Beauvoir menulis bentuk Lemback ketika melakukan perjalanan ke arah Tangkuban Prahu. Pada tahun yang sama, catatan perjalanan A.E. Croockewit sudah menggunakan bentuk Lembang. Dua penulis sezaman memakai ejaan berbeda untuk kawasan yang terkait dengan rute Bandung menuju gunung.

Kesamaan Lemback tahun 1686 dengan penulisan Beauvoir tahun 1866 memang menggoda. Tetapi jarak keduanya sekitar 180 tahun. Kita belum dapat menyimpulkan bahwa batas permukiman, pusat kegiatan, atau seluruh keturunannya tetap sama sepanjang masa itu. Sumber 1866 membantu membaca nama; belum otomatis mengisi kekosongan dua abad.

Inilah salah satu pekerjaan menarik sejarah lokal: mempertemukan serpihan yang terpisah jauh, tanpa berpura-pura bahwa semua celah sudah tertutup.

Yang dapat kita bawa pulang dari satu baris

Sumber VOC 1686 membuat tiga hal berdiri cukup kukuh: ada nama Lemback di Distrik Bandongh, Singamarta tercatat sebagai kepalanya, dan lima merujuk pada unit keluarga/cacah. Sesudah itu, pertanyaan mulai bercabang: lokasi persisnya, jaringan kampung tetangga, jenis mata pencaharian, perubahan penduduk, dan kesinambungan nama menuju Lembang modern.

Untuk menjawabnya diperlukan folio arsip asli, daftar dari masa lain, peta tua, serta pembacaan hati-hati atas istilah administratif VOC. Potongan tabel dan peta yang kelak menyertai artikel ini harus dibedakan: yang satu dokumen sejarah, yang lain mungkin hasil rekonstruksi modern.

Singamarta belum memiliki biografi panjang yang dapat dituturkan. Namun ia juga bukan tokoh rekaan. Lebih dari tiga abad setelah namanya ditulis, satu baris pencatatan masih cukup untuk mengajukan pertanyaan baru tentang tempat yang kini kita kenal sebagai Lembang.