Goenoeng Sari merupakan salah satu nama lama yang muncul dalam penelusuran sejarah Lembang. Dalam sumber-sumber awal abad ke-20, kawasan ini terhubung dengan kegiatan peternakan dan kehidupan ekonomi dataran tinggi Priangan.
Beberapa nama pengelola dan penghuni muncul dalam arsip serta pemberitaan, termasuk H. Bongers pada awal 1930-an dan E. Wilton Hart sesudahnya. Perubahan pengelola memperlihatkan bahwa usaha di kawasan ini tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari jaringan perkebunan, peternakan, dan distribusi hasil bumi yang menghubungkan Lembang dengan Bandung dan wilayah lain.
Sejarah Goenoeng Sari menarik karena memperlihatkan bentuk ekonomi yang berbeda dari kebun teh atau kina. Peternakan sapi perah dan usaha terkait susu kemudian menjadi salah satu identitas kuat Lembang. Walaupun hubungan langsung antara semua usaha awal dan industri susu modern masih perlu terus ditelusuri, Goenoeng Sari merupakan salah satu simpul yang membantu menjelaskan perubahan lanskap ekonomi tersebut.
Nama Goenoeng Sari juga penting sebagai toponim. Banyak nama lama kawasan kolonial kemudian berubah, bergeser, atau hilang dari penggunaan sehari-hari. Karena itu, melacak nama ini bukan hanya soal mencari sebuah onderneming, tetapi juga memahami bagaimana ruang di Lembang pernah dibagi, dimiliki, dikelola, dan disebut.