Pada pertengahan 1920-an, Lembang bukan hanya tempat berdirinya observatorium astronomi baru di dataran tinggi Priangan. Dari kompleks Bosscha, sekelompok astronom, geodesis, teknisi radio, dan petugas survei ikut mengerjakan satu persoalan yang pada masa itu sangat penting: bagaimana menentukan perbedaan bujur berbagai tempat di Bumi dengan ketelitian setinggi mungkin.

Hari ini persoalan posisi geografis terasa sederhana karena sistem satelit dapat memberikan koordinat dalam hitungan detik. Pada 1920-an, persoalannya jauh lebih rumit. Penentuan bujur memerlukan pengamatan lintasan bintang, jam astronomi yang stabil, pencatatan waktu yang sangat teliti, serta perbandingan waktu antarstasiun menggunakan sinyal radio. Kesalahan sepersekian detik dapat memengaruhi hasil.

Keterlibatan Bosscha dalam World Longitude Determination 1926 dan pengulangannya pada 1933 menunjukkan bahwa observatorium di Lembang sudah terhubung dengan jaringan ilmu pengetahuan internasional pada masa-masa awal operasinya. Program itu juga mempertemukan astronomi dengan geodesi dan geodinamika: pengukuran bujur yang diulang dalam selang waktu tertentu diharapkan dapat membantu menguji apakah posisi relatif berbagai tempat di permukaan Bumi berubah.

Dari observatorium astronomi ke pekerjaan geodesi

Observatorium Bosscha berdiri pada awal 1920-an. Namun kegiatan di kompleksnya sejak awal tidak hanya berkaitan dengan pengamatan bintang ganda atau objek langit lain. Penelitian sejarah astronomi yang diterbitkan pada 2025 menunjukkan bahwa pihak Topographical Service Hindia Belanda juga menggunakan fasilitas di Lembang untuk pekerjaan penentuan posisi astronomis.

Mulai Januari 1924, Johan Hildebrand George Schepers, kepala bagian geodesi Topographical Service, menugaskan insinyur sipil E.A. Scharpff. Ia dibantu J.D.C. Breyer serta dua teknisi pribumi. Tim ini terkait dengan Triangulation Brigade.

Untuk menentukan posisi astronomis, mereka memerlukan teleskop transit, jam astronomi, dan peralatan radio. Teleskop dan jam dapat digunakan untuk menentukan waktu dari perlintasan bintang dan membantu pengukuran lintang. Radio memungkinkan jam di Lembang dibandingkan dengan sinyal waktu dari tempat lain sehingga perbedaan bujur dapat dihitung.

Di bagian barat kawasan observatorium bahkan dibangun rumah untuk petugas yang menangani pekerjaan ini. Detail tersebut memperlihatkan bahwa penentuan posisi bukan percobaan sesaat, melainkan pekerjaan yang membutuhkan kehadiran teknisi dan sistem waktu yang terus dipelihara.

Mengapa waktu menentukan bujur?

Bujur pada dasarnya berkaitan dengan perbedaan waktu. Bumi berputar 360 derajat dalam kira-kira 24 jam. Karena itu, selisih waktu antara dua lokasi dapat diterjemahkan menjadi selisih bujur.

Masalahnya, jam harus dibandingkan dengan sangat akurat. Pada masa sebelum jaringan satelit, observatorium menentukan waktu lokal dengan mengamati kapan bintang tertentu melewati meridian. Setelah itu waktu lokal tersebut dibandingkan dengan waktu dari stasiun lain.

Radio mengubah cara kerja ini. Sinyal waktu dapat diterima dari jarak sangat jauh, sehingga observatorium tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pengiriman kronometer secara fisik dari satu tempat ke tempat lain.

Di Bosscha, layanan waktu sudah mulai dikembangkan sebelum kampanye internasional 1926. Sampai akhir Mei 1924, penelitian yang dirangkum dalam studi 2025 mencatat 121 penentuan waktu telah dilakukan. Pada September tahun itu, sinyal radio dari jaringan yang melibatkan observatorium seperti Leiden, Greenwich, Hamburg, dan Potsdam digunakan dalam pekerjaan penentuan bujur Lembang.

Dengan demikian, keterlibatan Bosscha dalam kampanye 1926 tidak muncul tiba-tiba. Infrastruktur pengamatan waktu dan komunikasi sudah dibangun dan diuji lebih dahulu.

World Longitude Determination 1926

Program 1926 merupakan upaya internasional untuk membandingkan bujur sejumlah stasiun dengan ketelitian tinggi. Pengamatan dilakukan pada periode yang telah disepakati agar banyak stasiun dapat bekerja dengan bintang, sinyal, dan prosedur yang dapat dibandingkan.

Stasiun-stasiun menerima sinyal radiotelegraf dari pemancar yang ditentukan dalam program internasional. Waktu kedatangan sinyal dibandingkan dengan jam astronomi lokal dan hasil observasi lintasan bintang.

Di Bosscha, salah satu instrumen penting adalah transit telescope. Instrumen ini ditempatkan dalam bangunan yang dapat digeser pada arah timur–barat. Ketika bintang melewati garis pengamatan, waktu lintasannya dicatat.

Pada 1926, Bosscha menggunakan Fuess chronograph. Alat ini merekam pengamatan waktu dan memungkinkan perbandingan beberapa jam. Namun penggunaan perangkat tersebut tidak selalu berjalan mulus. Penelitian sejarah menyebut adanya kesulitan dalam perekaman sinyal. Sejak 20 Oktober 1926, penerimaan berdasarkan metode pendengaran coincidence kemudian digunakan secara lebih dominan.

Detail teknis ini penting karena memperlihatkan bahwa sains lapangan tidak berjalan dalam kondisi ideal. Keakuratan hasil ditentukan bukan hanya oleh teori, tetapi juga kualitas instrumen, gangguan radio, cuaca, kestabilan jam, dan kemampuan teknisi.

Radio: teknologi kunci yang menghubungkan Lembang dengan dunia

Bosscha membutuhkan penerima radio untuk mendengarkan sinyal waktu dari stasiun-stasiun yang masuk program. Tantangannya besar. Persiapan pada 1926 relatif singkat, dan tidak semua perangkat dapat didatangkan dari Eropa.

Karena itu berbagai layanan teknis di Hindia Belanda ikut membantu. Laboratorium radio di Bandung dan infrastruktur pemancar di wilayah sekitar menjadi bagian penting dari sistem.

Tidak semua sinyal internasional dapat diterima dengan baik di Lembang. Sebagian pemancar terlalu lemah untuk kondisi penerimaan setempat. Setelah penyesuaian, tim masih harus bekerja dengan keterbatasan stasiun yang benar-benar dapat terdengar.

Kondisi tersebut membuat sejarah pengukuran bujur di Bosscha juga menjadi sejarah teknologi radio awal di Hindia Belanda. Observatorium tidak bekerja sendirian. Ia bergantung pada jaringan telepon, laboratorium radio, stasiun pemancar, layanan waktu, dan tenaga survei.

Malabar dan layanan waktu

Salah satu nama penting dalam jaringan radio masa itu adalah Malabar.

Sebelum dan selama pekerjaan penentuan bujur, sinyal waktu dari Malabar digunakan untuk mendukung pekerjaan di Lembang. Sinyal tersebut dikontrol dalam jaringan lembaga meteorologi dan magnetik di Weltevreden serta layanan komunikasi di Jawa.

Hubungan Bosscha dengan Malabar menjadi semakin penting ketika penentuan waktu juga dipakai untuk mendukung survei gravitasi F.A. Vening Meinesz. Dalam pelayaran dengan kapal selam K XIII, pengukuran gravitasi membutuhkan referensi waktu yang dapat dipercaya. Bosscha ikut membantu layanan sinyal waktu yang dipancarkan melalui Malabar.

Artinya, data waktu yang dijaga di Lembang tidak berhenti di observatorium. Ia masuk ke jaringan pengukuran yang digunakan dalam ekspedisi kelautan dan penelitian geofisika.

Menguji gagasan tentang gerak kerak Bumi

Mengapa kampanye penentuan bujur perlu diulang pada 1933?

Salah satu alasan ilmiahnya adalah keinginan untuk membandingkan hasil dengan pengamatan sebelumnya. Jika koordinat relatif tempat-tempat di Bumi berubah dalam interval beberapa tahun, perubahan tersebut secara teoritis dapat memberikan petunjuk mengenai pergerakan kerak.

Pada periode itu gagasan Alfred Wegener mengenai pergerakan benua masih menjadi persoalan ilmiah besar. Penentuan bujur yang sangat teliti dipandang sebagai salah satu cara yang mungkin membantu menguji kemungkinan perubahan posisi relatif antarstasiun.

Tidak berarti kampanye Bosscha sendirian membuktikan teori pergeseran benua. Klaim seperti itu akan berlebihan. Yang penting adalah konteks ilmiahnya: pengukuran posisi astronomis memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar membuat peta. Ia berhubungan dengan pertanyaan tentang kestabilan Bumi itu sendiri.

Pengulangan 1933

Pada 1933, kampanye penentuan bujur dunia kembali dilakukan. Beberapa perangkat dan prosedur di Bosscha telah mengalami perbaikan.

Fuess chronograph yang digunakan pada 1926 digantikan oleh Frentzen chronograph yang lebih baik. Jam dan sistem pencatatan waktu tetap menjadi pusat operasi.

Pengulangan ini memberi para peneliti kesempatan untuk membandingkan hasil dengan kampanye sebelumnya. Karena periode pengamatan dan prosedur diusahakan serupa, perbedaan sistematis dapat dikurangi.

Keterlibatan Lembang dalam dua kampanye yang dipisahkan sekitar tujuh tahun menjadikan Bosscha bagian dari eksperimen internasional yang berlangsung lintas negara dan lintas disiplin.

Siapa saja yang membuat pengukuran ini mungkin?

Narasi tentang observatorium sering terpusat pada direktur atau astronom terkenal. Padahal pekerjaan penentuan bujur bergantung pada banyak orang.

J.G.E.G. Voûte sebagai tokoh awal Bosscha berada dalam lingkungan yang mengembangkan observatorium. Di sisi geodesi terdapat J.H.G. Schepers dan personel Triangulation Brigade. E.A. Scharpff dan J.D.C. Breyer terlibat dalam pekerjaan penentuan posisi dan layanan waktu. Dua teknisi pribumi juga disebut dalam rekonstruksi sejarah program ini, meskipun nama mereka belum muncul jelas dalam bahan yang saat ini digunakan Portal Masa.

Ketiadaan nama bukan alasan untuk menghapus peran mereka. Sebaliknya, itu merupakan agenda penelitian. Arsip Topographical Service, laporan teknis, daftar personel, atau dokumentasi foto mungkin masih dapat mengungkap identitas para teknisi tersebut.

Foto udara Bosscha bukan bukti kampanye 1926

Portal Masa saat ini memiliki foto udara Observatorium Bosscha. Visual tersebut sangat berguna untuk memperkenalkan lokasi dan tata ruang observatorium, tetapi foto itu tidak boleh otomatis dijadikan bukti langsung kegiatan penentuan bujur 1926 atau 1933.

Untuk menerangkan kampanye, visual yang lebih kuat justru berupa teleskop transit, ruang jam, chronograph, ruang radio, atau stasiun radio yang benar-benar berkaitan dengan program.

Studi 2025 memuat dokumentasi instrumen semacam itu, termasuk transit telescope, ruang jam, Frentzen chronograph, serta foto laboratorium radio Bandung dan stasiun Cililin. Sebelum dipublikasikan di Portal Masa, hak reproduksi masing-masing visual tetap harus diperiksa.

Dari Lembang ke sistem referensi modern

Teknologi hari ini sangat berbeda. Posisi dapat ditentukan menggunakan sistem satelit dan teknik radio modern dengan ketelitian yang jauh melampaui kemampuan observatorium tahun 1920-an.

Namun prinsip dasarnya memiliki kesinambungan: posisi yang sangat akurat membutuhkan referensi waktu, pengamatan, instrumen, jaringan internasional, dan prosedur yang konsisten.

Dalam konteks modern, teknik seperti Very Long Baseline Interferometry dapat digunakan untuk membangun kerangka referensi dengan ketelitian tinggi. Karena itu sejarah Bosscha 1926 dan 1933 bukan sekadar cerita tentang teknologi lama. Ia merupakan bagian dari sejarah panjang manusia membangun sistem koordinat global yang semakin presisi.

Bagi Lembang, kisah ini memperlihatkan sesuatu yang sering luput dari sejarah lokal. Sebuah tempat yang dikenal karena udara dingin, perkebunan, dan wisata juga pernah menjadi titik pengamatan dalam proyek internasional untuk mengukur posisi Bumi.

Jauh sebelum orang membuka aplikasi peta di telepon, jam astronomi, sinyal radio, teknisi, dan teleskop transit di Lembang sudah ikut menjawab pertanyaan yang sama: di mana tepatnya kita berada?