Siapa sangka, sebuah tempat yang kini dikenal sebagai kawasan wisata Maribaya pernah muncul dalam panduan perjalanan berbahasa Belanda dengan petunjuk yang cukup rinci: jalan menuju desa, jalur turun ke sumber air panas, jembatan bambu, bahkan pilihan rute berjalan kaki kembali ke Bandung.
Kisah yang satu ini tidak dimulai dengan bokor ajaib. Kita masuk melalui buku-buku dan berita yang terbit ketika kawasan itu sudah menjadi tujuan orang berwisata maupun mencari pemandian air panas. Melalui dokumen tahun 1927, 1935, dan 1937, kita bisa melihat bagaimana Maribaya tercatat dan bagaimana fasilitasnya berkembang.
Tahun 1927: perjalanan yang belum semudah sekarang
Sebuah buku berjudul Gids van Bandoeng en Midden-Priangan, edisi kedua tahun 1927, ditulis S.A. Reitsma dan W.H. Hoogland. Buku itu mengajak pembaca menjelajahi berbagai tujuan di sekitar Bandung, termasuk Lembang, observatorium, gunung, dan tempat pemandian bernama Tjipanas.
Rute yang disarankan menuju Tjipanas melewati kampung Tjikidang. Jaraknya disebut sekitar empat setengah kilometer dari Lembang dan sekitar 20 kilometer dari Bandung. Menurut panduan itu, jalan yang bisa dilewati mobil berhenti di Tjikidang. Pengunjung lalu harus menuruni jalan curam di lereng Pasir Malang. Perjalanan menurunnya diperkirakan seperempat jam.
Bayangkan perjalanan wisata pada masa itu. Setelah turun dari kendaraan, orang tidak langsung melangkah ke area parkir yang tertata. Mereka harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, membawa kebutuhan sendiri, sembari menghadapi jalan menurun di alam pegunungan.
Penulis buku menyebut desa kecil Maribaja tampak di bawah, dengan sungai Tjikoeloeng yang mengalir deras di dekatnya. Di sekitar pertemuan aliran Tjikoeloeng dan Tjikawari terdapat tempat yang disebut sebagai kuuroord atau kawasan perawatan/pemandian Tjipanas. Istilah itu menunjukkan bahwa pemandian dipromosikan tidak semata sebagai tempat bermain air, melainkan sebagai lokasi yang pada zamannya dianggap punya manfaat kesehatan.
Sumber air panasnya digambarkan muncul dari beberapa tempat. Panduan tersebut mencatat suhu sekitar 42 derajat Celsius untuk satu titik dan kira-kira tiga derajat lebih hangat untuk lokasi pemandian kedua. Angka itu merupakan keterangan penulis tahun 1927; bukan pengukuran kondisi masa kini.
Ada detail yang lebih menarik: kedua bagian pemandian itu dihubungkan oleh jembatan bambu kecil yang disebut kerap terganggu ketika sungai meluap. Penulis juga memberi catatan negatif tentang kebersihan salah satu lokasi, bahkan tidak menyarankan pembacanya mandi di sana pada waktu itu. Jadi, Maribaya tempo dulu tidak selalu tampil sebagai tujuan sempurna seperti iklan wisata. Buku tersebut memuat pujian atas pemandangan sekaligus kritik tentang kondisi fasilitas.

Dua sungai dan jalur panjang menuju Dago
Di dalam buku panduan yang sama, pembaca diajak membayangkan berjalan dari Tjipanas menuju Dago melalui rute yang diperkirakan memakan waktu sekitar satu setengah jam. Jalannya mengikuti tepi Tjikawari, lalu bagian lain di sekitar Tjikapoendoeng. Ada pula jalur menuju daerah Cibodas dan punggungan lain, sebelum turun ke kawasan Bandung.
Rute-rute ini mengingatkan kita bahwa pemandian Maribaya merupakan bagian dari jaringan jalan kaki, kebun, sungai, dan jalur penghubung desa. Tempat wisata tidak berdiri terpisah dari kehidupan warga sekitarnya. Buku panduan membantu memperlihatkan hubungan geografis yang mungkin tidak terlihat jika kita hanya melihat satu foto pemandian.
Nama yang dipakai dalam dokumen juga bermacam-macam: Maribaja untuk desa, Tjipanas untuk tempat air panas, Tjikidang untuk jalur pendekatannya. Ejaan lama tersebut berguna saat kita mencari arsip tambahan, sebab pencarian dengan nama “Maribaya” saja dapat melewatkan banyak dokumen.
Tahun 1935: jalan yang jadi berita
Perubahan berikutnya dapat ditelusuri melalui surat kabar berbahasa Sunda Sipatahoenan. Dalam artikel tanggal 16 Oktober 1935, yang kemudian diteliti dan dibahas oleh Atep Kurnia, diberitakan rute dari Bandung ke Lembang, lalu menuju Tjikidang dan Tjibodas.
Koran itu menyebut jalan baru dari Lembang ke Tjikidang sudah diresmikan. Namun tidak seluruh perjalanan menjadi mudah. Jalur ke arah Tjibodas digambarkan turun sangat tajam, sehingga ada pengemudi yang terpaksa menepi dan tidak melanjutkan kendaraan.
Keterangan ini tidak perlu dilebih-lebihkan menjadi cerita kecelakaan atau bahaya tertentu yang tidak disebut sumber. Nilainya justru terletak pada hal sehari-hari: membangun akses wisata pegunungan membutuhkan pekerjaan jalan, biaya, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan kontur yang tidak ramah bagi kendaraan.
Penelitian sejarah atas tokoh Raden Mochamad Enoch juga menemukan bahwa pada periode 1933–1935, jalan Cikidang–Maribaya–Cibodas termasuk pekerjaan yang dilakukan oleh pemerintahan Kabupaten Bandung. Anggaran yang dicatat untuk pekerjaan tersebut sebesar 15.000 gulden, dengan kontribusi yang dibagi antara pihak kabupaten dan perkebunan. Angka ini berasal dari rekonstruksi sejarawan Atep Kurnia berdasarkan laporan Sipatahoenan, bukan pembacaan langsung yang sudah kami lakukan terhadap kuitansi proyek.
Siapa yang mengembangkan pemandian?
Legenda menyebut Eyang Raksa Dinata dan tahun 1835. Namun ketika menelusuri pembangunan fasilitas modern pada era kolonial, muncul nama lain yang memiliki bukti lebih jelas dalam tulisan pemerintahan dan berita sezaman: Raden Mochamad Enoch.
Ia pernah menjadi direktur pekerjaan umum Kabupaten Bandung. Dalam penelitian biografinya, Enoch disebut terlibat merintis dan mengelola pemandian Cipanas–Maribaya, membuat pesanggrahan di kawasan itu, dan menangani pembangunan akses jalan.
Sebuah buku pemerintah kabupaten yang berjudul Pangalengan Tanah Padikoelan Kaboepaten Bandoeng, terbit sekitar 1930-an, bahkan memuat iklan untuk pemandian air panas Maribaja. Iklan itu menyebut nama Raden Moehamad Enoch sebagai perancang pemandian, dengan jabatan Directeur Regentschapswerken. Ini merupakan petunjuk sezaman yang penting untuk memahami sisi teknik dan pengelolaan tempat wisata tersebut.
Keduanya bukan cerita yang harus diadu. Tokoh dalam legenda merupakan bagian dari tradisi penuturan, sementara Enoch muncul dalam keterangan pengelolaan dan pembangunan fasilitas pada masa pemerintahan kabupaten. Sumber tentang seorang perancang pemandian pada 1930-an sama sekali tidak membuktikan atau membantah keajaiban dua bokor dalam dongeng.

