Sebelum kawasan Lembang dipenuhi berbagai tujuan wisata modern, nama Grand Hotel Lembang sudah dikenal sebagai salah satu tempat singgah di pegunungan utara Bandung. Orang bisa mengingat hotel itu dari bangunannya, tamannya, atau cerita tentang tamu yang datang mencari udara sejuk. Namun jika kita membuka foto-foto lama dan riwayat orang yang pernah bekerja di sana, kisah Grand Hotel ternyata jauh lebih kaya: ada pekerja dari Jawa, keluarga pendatang dari Eropa, kolam renang, ruang makan, serta peristiwa dunia yang mengubah kehidupan mereka.
Lembang Menjadi Tempat Singgah
Pada awal abad ke-20, Lembang berkembang sebagai kawasan peristirahatan yang terhubung dengan Bandung. Dataran tinggi ini menawarkan udara lebih sejuk daripada kota di bawahnya. Perkebunan, jalan menuju Tangkuban Parahu, tempat tinggal, dan fasilitas untuk pendatang tumbuh berdampingan dengan kehidupan penduduk setempat.

Hotel-hotel berada dalam jaringan perubahan tersebut. Kehadirannya bukan hanya menyediakan kamar dan makanan bagi pelancong, melainkan juga menciptakan pekerjaan bagi warga sekitar, mulai dari mengurus kebersihan hingga memasok kebutuhan dapur.
Foto Grand Hotel Lembang dalam koleksi Wereldmuseum, yang diperkirakan berasal dari rentang 1915–1940, memperlihatkan bahwa hotel itu telah menjadi objek dokumentasi pada masa kolonial. Tetapi rentang tanggal sebuah foto jangan disamakan dengan tanggal pendirian hotel. Dalam berbagai tulisan tentang Grand Hotel muncul tahun 1916, 1918, dan 1919 dalam konteks pembangunan atau awal usaha.
Yang jelas, hotel ini telah menjadi bagian dari kehidupan Lembang pada paruh awal abad ke-20, sementara tanggal resmi pendiriannya masih menyisakan pertanyaan.
Bukan Hanya Sebuah Bangunan
Foto-foto koleksi museum membantu kita membayangkan suasana Grand Hotel ketika masih aktif. Ada gambar bagian luar hotel, ruang makan, koridor, ruang utama, bar, lapangan tenis, dan kolam renang.
Salah satu foto yang paling jelas penanggalannya ialah kolam renang tahun 1936–1937, koleksi Wereldmuseum dengan nomor 10030163. Foto tersebut memastikan fasilitas kolam renang memang sudah ada pada masa itu, tanpa perlu menebak kapan persis pertama kali dibangun.
Bayangkan kehidupan hotel pada suatu pagi. Tamu bersiap menikmati udara pegunungan, sementara para pegawai sudah lebih dahulu bekerja. Dapur menyiapkan makanan, meja diatur, kamar dibersihkan, dan taman dirawat. Gambaran ini merupakan rekonstruksi suasana keseharian hotel, bukan catatan tentang satu pagi tertentu.
Di balik fasilitas yang tampak mewah dalam foto, selalu ada orang-orang yang memastikan semuanya berjalan dengan baik. Sebagian dari mereka adalah pekerja lokal yang nama-namanya jarang muncul dalam buku sejarah.

Istilah djongos ditemukan dalam sumber kolonial untuk menyebut pelayan laki-laki. Istilah tersebut mencerminkan hubungan sosial yang tidak setara pada zamannya. Membaca sejarah hotel berarti juga membaca bagaimana pekerjaan, kedudukan, dan perlakuan terhadap manusia diatur dalam masyarakat kolonial.
Treipl, Ferdinand, dan Mary
Riwayat Ferdinand Seiferth yang diterbitkan Nederlands Instituut voor Militaire Historie (NIMH) memperkenalkan Franz Victor Treipl, seorang asal Austria yang disebut sebagai pemilik Grand Hotel Lembang sekitar awal 1930-an.
Menurut profil tersebut, Treipl membutuhkan pegawai berpengalaman dan mencari tenaga kerja dari Austria. Dua orang yang kemudian bergabung dengan lingkungan hotel adalah Ferdinand dan Mary Seiferth.
Mereka meninggalkan Eropa yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi. Mary datang terlebih dahulu, sedangkan Ferdinand menyusul. Kisah ini memperlihatkan bahwa Lembang pada masa kolonial berada dalam jaringan perpindahan manusia yang bahkan menjangkau Eropa.
Ferdinand bekerja menangani ruang makan dan memimpin para pelayan laki-laki. Dalam usia muda, ia memperoleh kedudukan cukup baik. NIMH juga mencatat bahwa ia mampu memiliki sepeda motor, suatu benda yang pada masa itu belum menjadi kendaraan biasa bagi masyarakat luas.
Namun kehidupan yang telah dibangun di Lembang tidak selalu berjalan menyenangkan. Mary meninggal pada 12 Desember 1939. Treipl juga wafat tidak lama sesudahnya.
Situasi dunia kemudian berubah semakin tajam. Perang di Eropa memengaruhi perlakuan pemerintah kolonial Hindia Belanda terhadap orang-orang berkebangsaan Jerman dan Austria.
Pada 1940, Ferdinand ikut ditahan. Riwayat NIMH mencatat bahwa ia kemudian meninggal dalam peristiwa tenggelamnya kapal Van Imhoff pada Januari 1942.
Dengan demikian, kisah seorang pekerja Grand Hotel Lembang ternyata tersambung dengan salah satu episode tragis Perang Dunia Kedua di Hindia Belanda.
Bagaimana dengan Para Pekerja dari Lembang?
Riwayat Ferdinand membuat sejarah Grand Hotel terasa lebih dekat karena kita mengenal nama, pekerjaan, dan perjalanan hidup seseorang.
Namun ada pertanyaan yang tidak kalah penting: bagaimana dengan pelayan dapur, tukang kebun, penjaga malam, pegawai kebersihan, pengantar barang, atau pemasok makanan yang berasal dari kampung-kampung sekitar Lembang?
Nama-nama mereka tidak mudah ditemukan dalam sumber yang telah kita kumpulkan. Ini merupakan keadaan yang sering terjadi dalam sejarah kolonial. Kisah pengelola dan pegawai Eropa tersimpan dalam dokumen keluarga atau lembaga resmi, sementara pengalaman pekerja lokal jauh lebih sulit ditemukan.
Padahal hotel sebesar Grand Hotel tentu memerlukan hubungan dengan masyarakat sekelilingnya. Sayuran, susu, kayu bakar, bahan makanan, tenaga kerja, dan berbagai kebutuhan sehari-hari harus tersedia.
Di sinilah sejarah Grand Hotel bersinggungan dengan sejarah perkebunan, peternakan, pasar, dan kampung-kampung Lembang. Foto pegawai, kartu pos, kuitansi, atau ingatan keluarga warga setempat kelak dapat membantu melengkapi kisahnya.
Bangunan yang Mengalami Perubahan
Nama arsitek A.F. Aalbers terdapat dalam literatur arsitektur yang mencantumkan Grand Hotel Lembang sebagai salah satu proyeknya.
Namun catatan yang tersedia belum memastikan tahun rancangan maupun batas pekerjaan Aalbers pada kompleks hotel. Karena itu, keterlibatannya lebih tepat dipahami sebagai bagian dari sejarah perkembangan arsitektur Grand Hotel, bukan bukti bahwa seluruh bangunan sejak awal dirancang olehnya.
Hotel yang beroperasi dalam waktu panjang sangat mungkin mengalami perubahan. Ruang makan bisa ditata ulang, sayap bangunan diperluas, atau fasilitas tambahan dibangun sesuai kebutuhan tamu.
Perubahan seperti ini juga mengingatkan kita agar berhati-hati ketika membandingkan foto dari tahun berbeda. Dua gambar hotel yang tidak sepenuhnya sama belum tentu memperlihatkan bangunan berbeda; mungkin saja keduanya merekam tahap perkembangan yang berlainan.
Dari Foto Lama ke Ingatan Warga
Grand Hotel Lembang sering disebut sebagai bangunan peninggalan kolonial. Tetapi kisahnya sesungguhnya lebih luas daripada usia bangunan.
Di sana pernah bertemu berbagai orang dengan latar belakang berbeda: tamu dari luar daerah, pengelola, pekerja, keluarga, pedagang, hingga masyarakat yang tinggal di sepanjang jalan menuju hotel.
Sebagian orang meninggalkan nama dalam dokumen. Sebagian lainnya mungkin hanya tersimpan dalam ingatan anak dan cucu mereka.
Foto koleksi Wereldmuseum dan riwayat Ferdinand Seiferth setidaknya telah membuka dua lapisan sejarah yang berharga: seperti apa hotel tersebut pada masa lalu, dan bagaimana kehidupan seorang pekerja terhubung dengan peristiwa besar dunia.
Lapisan berikutnya masih menunggu untuk digali, terutama kisah warga Lembang sendiri.
Jika masih ada keluarga yang menyimpan foto, kartu pos, cerita bekerja, atau benda yang berhubungan dengan Grand Hotel Lembang, peninggalan tersebut dapat menjadi bagian penting dalam menyusun sejarah kawasan ini secara lebih utuh.

