Pada 12 September 1920, sebuah pertemuan di Hotel Homann, Bandung, tidak menghasilkan bangunan observatorium pada hari itu juga. Yang terbentuk adalah Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging, perkumpulan yang mengorganisasi sebuah cita-cita ilmiah. Beberapa tahun kemudian, cita-cita tersebut diwujudkan di dataran tinggi Lembang.
Membayangkan perjalanannya menarik justru karena tidak serba instan. Orang-orang perlu menghimpun dukungan, memikirkan tempat pengamatan, mengusahakan instrumen, dan menyiapkan pekerjaan yang membutuhkan ketelitian bertahun-tahun. Hotel itu menjadi titik awal kisah organisasi; bangunan Bosscha yang dikenal sekarang merupakan bagian dari babak berikutnya.
Kalau mendengar nama Hotel Homann, yang terbayang mungkin sebuah bangunan bersejarah di Kota Bandung. Tetapi siapa sangka, salah satu cerita besar tentang penelitian langit Indonesia juga mempunyai hubungan dengan hotel tersebut?
Pada 12 September 1920, sejumlah peminat astronomi berkumpul di Hotel Homann, Bandung. Mereka membentuk sebuah perkumpulan dengan nama Belanda Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging, disingkat NISV. Tujuannya bukan sekadar berbagi kabar mengenai benda langit, melainkan membangun dan memelihara sebuah observatorium serta memajukan astronomi.
Tiga nama berperan penting dalam masa awal itu: Karel Albert Rudolf Bosscha, R.A. Kerkhoven, dan astronom Joan George Erardus Gijsbertus Voûte. K.A.R. Bosscha menjadi pendukung utama yang bersedia membantu pembelian teropong bintang.
Bayangkan Indonesia pada tahun 1920. Belum ada internet untuk mengunduh gambar galaksi, belum ada aplikasi ponsel yang mengenali nama bintang. Pengetahuan tentang langit dipelajari melalui buku, pengamatan, perhitungan, dan hubungan dengan para ilmuwan di tempat lain. Untuk memiliki observatorium yang baik, para pendukungnya memerlukan uang, lokasi yang sesuai, peralatan, dan orang yang mampu menjalankannya.
Dari suatu pertemuan di pusat kota, perhatian kemudian beralih ke kawasan yang lebih sejuk di utara Bandung. Lembang menawarkan kondisi yang dianggap cocok untuk pengamatan astronomi pada masa tersebut. Di tempat itulah kompleks observatorium mulai dibangun.
Pada 1 Januari 1923, Observatorium Bosscha diresmikan. Nama Bosscha dipakai untuk menghargai perannya sebagai penggagas dan penyokong. Tetapi tentu pekerjaan tidak berhenti setelah peresmian. Sebuah observatorium baru benar-benar hidup ketika alatnya tersedia, para ilmuwannya bekerja, dan hasil pengamatannya dibagikan kepada dunia pengetahuan.
Beberapa tahun kemudian, fasilitas observatorium semakin lengkap, termasuk teleskop refraktor ganda Zeiss yang menjadi ikon bangunannya. Menariknya, orang yang melintasi kawasan Lembang mungkin hanya melihat kubah putih yang indah. Padahal, di balik atap itu ada sebuah cerita organisasi, kerja sama, dan tujuan ilmiah yang bermula dari pertemuan pada 1920.
Apa yang bisa dipetik dari kisah tersebut? Kadang sejarah besar tidak dimulai dengan peristiwa yang terdengar megah. Ada yang berawal dari diskusi, kesepakatan, dan orang-orang yang sama-sama percaya bahwa sebuah gagasan patut diwujudkan.
Sebuah hotel di kota, beberapa pencinta astronomi, dan pegunungan di utara Bandung ternyata dapat masuk dalam satu rangkaian cerita. Siapa sangka, rencana mempelajari langit Nusantara memiliki salah satu titik awal di meja pertemuan sebuah hotel?
Malam ketika perkumpulan mendapat bentuk
Pertemuan pada 12 September 1920 di Hotel Homann bukanlah pengamatan bintang. Ia merupakan pertemuan orang-orang yang mencari cara membangun sebuah lembaga ilmiah. Situs resmi Observatorium Bosscha mencatat pembentukan Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV), Perhimpunan Astronomi Hindia Belanda. Perkumpulan itu menetapkan tujuan yang konkret: mendirikan dan memelihara observatorium serta memajukan astronomi. Karena itu, tanggal dan lokasi rapat penting bukan sekadar sebagai cerita asal, melainkan sebagai titik kelembagaan.
Inisiatif Karel Albert Rudolf Bosscha melibatkan R.A. Kerkhoven dan astronom J.G.E.G. Voûte. Ketiganya mempunyai peran yang tidak identik. Bosscha dikenal sebagai penggerak dan penyandang dana utama; Kerkhoven turut membantu mengumpulkan dukungan; Voûte membawa keahlian astronomi yang diperlukan agar gagasan tidak berhenti sebagai kegiatan sosial. Cerita yang hanya menonjolkan seorang pemilik perkebunan akan menghilangkan kerja sama yang membentuk lembaga itu.

Mengapa Lembang, bukan ruang rapat hotel?
Hotel adalah tempat keputusan dipertemukan; lokasi observatorium membutuhkan pertimbangan lain. Instrumen astronomi memerlukan fondasi dan kondisi pengamatan yang lebih cocok daripada pusat kota padat. Lembang kemudian dipilih menjadi rumah bagi fasilitas ilmiah yang terus berkembang. Penting untuk tidak menukar dua tempat ini: Hotel Homann berada di Bandung, sedangkan Observatorium Bosscha dibangun di Lembang. Foto hotel masa kini maupun foto udara sekitar 1935 hanya dapat memperlihatkan bangunannya pada masa tertentu, bukan membuktikan siapa saja yang duduk dalam rapat tahun 1920.
Pada 1 Januari 1923 observatorium diresmikan. Tetapi peresmian itu tidak berarti semua instrumen besar sudah tersedia sejak hari pertama. Teleskop refraktor ganda Zeiss secara resmi diserahkan pada 7 Juni 1928. Perbedaan antara tahun berdiri lembaga, peresmian observatorium, dan penyerahan alat menunjukkan bahwa sebuah institusi sains tumbuh melalui tahapan, bukan satu peristiwa tunggal.
Dari urusan perkumpulan menjadi warisan ilmu
Observatorium sering terlihat sebagai bangunan berkubah yang menonjol dalam pemandangan. Di balik itu ada kesinambungan pekerjaan: merawat alat, menyusun program pengamatan, membimbing orang yang belajar, menyimpan data, dan meneruskan pengetahuan ke generasi berikutnya. Rangkaian aktivitas tersebut tidak tampak ketika seseorang hanya mengambil foto dari gerbang. Namun itulah yang membedakan sebuah observatorium dari bangunan wisata biasa.
Kisah hotel memperlihatkan bahwa kerja ilmu pengetahuan juga memerlukan keputusan organisasi dan pendanaan. Orang yang mengusulkan gagasan, orang yang mendukungnya, dan orang yang kelak melakukan pengamatan mempunyai kontribusi masing-masing. Dengan begitu, pembaca memperoleh gambaran tentang sejarah sains sebagai pekerjaan bersama, bukan legenda satu tokoh yang menyelesaikan semuanya sendirian.
Bila ada foto pembanding, keterangannya harus tegas: 'Hotel Homann sekitar dekade 1930-an' bukan 'foto rapat 1920'. Detail tahun kecil itu mengubah seluruh arti gambar. Untuk membuktikan suasana rapat diperlukan arsip khusus, misalnya notula, daftar peserta, atau dokumentasi sezaman yang mengidentifikasi acaranya. Sampai bukti semacam itu ditemukan, penutur dapat menceritakan keputusan bersejarahnya tanpa mereka-reka adegan di dalam ruangan.
Tiga penanda waktu yang berbeda
Riwayat resmi Observatorium Bosscha membedakan tanggal pembentukan perhimpunan dan tanggal peresmian observatorium. NISV dibentuk dalam pertemuan Hotel Homann pada 12 September 1920, sedangkan observatorium di Lembang diresmikan pada 1 Januari 1923. Teleskop refraktor ganda Zeiss yang kini menjadi lambang kubah Bosscha diserahkan resmi kemudian, pada 7 Juni 1928, sebagaimana diterangkan dalam rilis institusi tahun 2018. Menyatukan ketiganya menjadi satu 'hari jadi' akan mengaburkan proses panjang ketika gagasan, gedung, dan instrumen datang dalam tahap berbeda. Kisah hotel menarik justru karena satu pertemuan membuka jalan menuju kerja ilmiah yang berlangsung lama setelah para peserta pulang.
Baca juga di Portal Masa
Teleskop Ganda Zeiss, Mata Raksasa Bosscha Sejak 1928 · Sebelum GPS, Lembang Ikut Mengukur Dunia
Catatan
Tanggal, tempat pertemuan, nama pendiri, tujuan NISV, dan tanggal peresmian bersumber dari sejarah resmi Observatorium Bosscha ITB. Bagian yang mengajak pembaca membayangkan suasana tahun 1920 merupakan pengantar naratif, bukan kutipan saksi mata.

