Di kawasan Cijanggel dan sekitarnya terdapat jejak infrastruktur air yang oleh warga dikenal dengan istilah watervang. Dalam bahasa Belanda, istilah ini dapat berkaitan dengan penangkapan atau pengambilan air. Di lapangan, ingatan warga menyebut adanya pipa besar, dua aliran air, serta hubungan dengan jalur di bawah Pangheotan dan sekitar jembatan Kolonel Masturi.
Jejak seperti ini sering luput dari sejarah resmi karena infrastrukturnya tidak selalu memiliki papan nama atau bangunan besar. Namun bagi penduduk setempat, bentuk fisik seperti pipa, bak, saluran, pondasi, atau bekas jalan justru menjadi penanda yang terus diingat.
Dalam penelitian Portal Masa, informasi ini ditempatkan sebagai sumber lisan dan lead lapangan. Tujuannya bukan memaksakan kesimpulan sebelum arsip ditemukan, tetapi menjaga agar pengetahuan lokal tidak hilang sambil mencari dokumen teknik, peta, atau catatan perkebunan yang mungkin menjelaskan fungsi awalnya.
Watervang juga memperlihatkan satu hal penting: sejarah kawasan pegunungan tidak hanya tersimpan dalam rumah tua atau perkebunan. Sistem air, jalan kerja, jembatan, saluran, dan pipa merupakan bagian dari infrastruktur yang memungkinkan perkebunan dan permukiman berkembang.
Penelitian terhadap Watervang Cijanggel masih terbuka. Lokasi, jalur aliran, hubungan dengan perkebunan, serta kemungkinan perubahan fungsi pada masa berikutnya perlu terus dicocokkan dengan peta dan kesaksian warga lain.
TEMPAT · Periode kolonial – abad ke-20
Watervang Cijanggel: Jejak Infrastruktur Air di Lereng Lembang
Di kawasan Cijanggel–Cisarua terdapat jejak infrastruktur air yang dalam ingatan warga dikenal sebagai watervang: saluran, pipa besar, dan aliran yang terkait dengan pemanfaatan air di lereng pegunungan.