Bayangkan seorang peneliti ingin mengetahui posisi suatu tempat pada awal abad ke-20. Ia tidak dapat mengetik alamat pada telepon. Untuk mencapai hasil teliti, ia membutuhkan pengamatan, perhitungan waktu, dan titik acuan yang dapat dibandingkan dengan observatorium di daerah lain. Di sinilah pekerjaan astronomi bersentuhan dengan geografi.
Observatorium Bosscha di Lembang ikut berada dalam jaringan kegiatan yang menghubungkan pengamatan langit dan pengukuran di Bumi. Kerja itu tidak sama dengan aplikasi GPS modern, tetapi menjelaskan mengapa jam, bintang, dan catatan angka menjadi bagian dari sejarah pembuatan peta. Ceritanya berkembang dari kegiatan praktis ilmuwan, bukan dari keajaiban satu alat.
Hari ini, ketika seseorang membuka peta di telepon genggam, sebuah titik kecil bisa langsung menunjukkan posisinya. Kita bisa mengetahui arah jalan, memperkirakan jarak, bahkan mengirim lokasi kepada teman hanya dalam hitungan detik.
Sekarang coba bayangkan dunia hampir seratus tahun lalu. Belum ada GPS di saku, belum ada aplikasi peta yang bisa mengikuti gerakan kita secara langsung. Para ilmuwan tetap membutuhkan cara untuk mengetahui posisi sebuah tempat di permukaan bumi dengan ketelitian tinggi. Salah satu caranya justru menengadah ke langit.
Dan salah satu tempat yang ikut dalam pekerjaan besar itu berada di Lembang: Observatorium Bosscha.
Bukan Hanya Tempat Melihat Bintang
Bagi banyak orang, Bosscha identik dengan kubah besar, teleskop, dan pengamatan benda-benda langit. Bayangan itu memang tepat, tetapi pekerjaannya sejak awal ternyata lebih beragam.
Observatorium yang diresmikan pada 1 Januari 1923 itu tidak hanya berperan dalam astronomi. Penelitian sejarah sains yang terbit pada 2025 menunjukkan bahwa Bosscha juga ikut dalam pekerjaan geodesi, yaitu ilmu pengukuran dan pemetaan bumi.
Salah satu tantangan penting pada masa itu adalah menentukan garis bujur, atau longitude, secara sangat teliti. Garis bujur membantu menjelaskan seberapa jauh suatu tempat berada di sebelah timur atau barat suatu garis acuan.
Sekarang angka koordinat terasa biasa karena muncul otomatis di layar. Dahulu, memperolehnya memerlukan pengamatan, perhitungan, dan kerja sama lintas negara.

Bagaimana Bintang Bisa Membantu Mengukur Bumi?
Bumi berputar. Karena itu, dari sudut pandang pengamat, bintang-bintang tampak bergerak melintasi langit sepanjang malam. Dengan alat dan pencatatan waktu yang teliti, ilmuwan dapat mengamati kapan bintang tertentu melintas pada arah yang telah ditentukan.
Di sinilah hubungan antara langit dan peta menjadi menarik. Jika waktu pada satu tempat dapat dibandingkan secara akurat dengan waktu di tempat lain, perbedaan tersebut membantu menentukan perbedaan garis bujur.
Masalahnya, jam antartempat harus diselaraskan dengan teliti. Kesalahan beberapa detik saja bisa berpengaruh pada hasil pengukuran. Maka astronom tidak hanya membutuhkan teleskop, tetapi juga perangkat pencatat waktu, sinyal, dan komunikasi.
Pada masa ketika perjalanan informasi masih jauh lebih lambat daripada sekarang, radio memainkan peran penting. Sinyal waktu yang dikirim dari pemancar dapat diterima dan dibandingkan dengan hasil pengamatan astronomi.
Lembang Masuk Dalam Kerja Sama Internasional
Pada 1926, berbagai observatorium dan lembaga ilmiah mengikuti program penentuan garis bujur dunia. Tujuannya adalah membandingkan posisi geografis banyak tempat secara akurat melalui metode yang dapat diuji bersama.

Bosscha ikut ambil bagian. Pengamatan menggunakan instrumen transit, yakni teleskop yang digunakan untuk mencatat lintasan benda langit melalui garis acuan tertentu. Dalam penelitian yang membahas kegiatan ini, disebutkan pula penggunaan sinyal waktu melalui telegrafi nirkabel.
Program sejenis dilaksanakan kembali pada 1933. Pengulangan itu bukan sekadar memeriksa angka lama. Para ilmuwan juga berharap pengukuran lintas waktu dapat membantu menguji kemungkinan perubahan posisi relatif wilayah di bumi, sebuah persoalan yang berkaitan dengan gagasan pergerakan kerak bumi.
Dalam salah satu pembahasan ilmiahnya, hasil bujur untuk Lembang dicatat dalam satuan waktu: 7 jam 10 menit 27,773 detik pada 1926, dan 7 jam 10 menit 27,840 detik pada 1933. Angka-angka seperti ini terdengar aneh jika kita biasa melihat koordinat dalam derajat. Namun, untuk pengukuran astronomi, penyajian bujur dalam satuan waktu memiliki alasan matematis karena kaitannya dengan rotasi bumi.
Perbedaan kecil antara hasil dua periode itu tidak boleh langsung disimpulkan sebagai bukti bahwa Lembang bergeser. Pengukuran semacam ini memerlukan analisis terhadap alat, metode, ketelitian, dan data dari banyak stasiun.
Cerita Dunia Dari Sebuah Kota Kecil
Apa yang membuat kisah ini layak masuk Fun History?
Bayangkan suasana Lembang pada 1920-an dan 1930-an. Pada masa ketika kawasan ini dikenal dengan perkebunan, udara sejuk, dan pemandangan pegunungan, para peneliti di observatorium turut mengerjakan persoalan yang juga dipikirkan ilmuwan di berbagai penjuru dunia.
Bukan hanya soal bintang yang jauh. Mereka membantu manusia menjawab pertanyaan yang sangat membumi: di manakah sebenarnya sebuah tempat berada?
Itulah sebabnya Bosscha tidak cukup dipandang hanya sebagai bangunan bersejarah yang bagus untuk difoto. Ada riwayat pertukaran pengetahuan internasional di dalamnya, lengkap dengan teleskop, catatan pengamatan, dan teknologi komunikasi pada zamannya.
Tentu, proyek 1926 dan 1933 bukan GPS modern. Teknologi navigasi satelit yang kita kenal sekarang berkembang melalui jalur sejarah yang berbeda. Namun, keinginan manusia untuk mengetahui posisi secara tepat merupakan benang merah yang menghubungkan pekerjaan para astronom dahulu dengan peta digital hari ini.
Jadi, lain kali ketika melihat kubah Observatorium Bosscha dari jalan-jalan Lembang, ingatlah satu hal: dari kawasan pegunungan Bandung utara, para ilmuwan pernah ikut dalam usaha besar untuk mengukur dunia.
Dua tahun dalam kerja yang melintasi negara
Penelitian sejarah sains tahun 2025 yang ditulis Taufiq Hidayat dan rekan-rekannya membahas keterlibatan Bosscha dalam proyek World Longitude Determination tahun 1926 dan 1933. Inisiatif ini melibatkan lembaga-lembaga dari berbagai negara yang ingin menyamakan pengukuran garis bujur secara teliti. Salah satu gagasan pada masa itu ialah membandingkan pengukuran yang diulang setelah selang waktu cukup panjang untuk memeriksa kemungkinan perubahan posisi relatif permukaan bumi.
Tahun 1926 dan 1933 bukan dua tanggal berdirinya Bosscha. Kedua tahun tersebut merujuk proyek pengukuran yang dibahas para peneliti. Dengan membedakannya dari pendirian observatorium pada 1923, pembaca dapat melihat bahwa lembaga baru di Lembang sudah menjadi bagian kerja sama ilmiah lintas negara pada fase awal kehidupannya.
Mengapa kerja sama mutlak diperlukan?
Garis bujur adalah posisi dalam sistem koordinat yang tidak bisa ditentukan hanya dengan menunjuk pegunungan terdekat. Pengukuran astronomi dan sinkronisasi waktu memainkan peranan penting sebelum sistem satelit navigasi menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Lembaga yang tersebar di tempat berbeda perlu menggunakan prosedur sebanding agar hasilnya dapat diperiksa bersama. Hasil penelitian 2025 memberi jalan untuk mempelajari sejarah kerja tersebut tanpa mengklaim bahwa sebuah teleskop tertentu sendirian 'mengukur seluruh bumi'.
Sumbangan ilmiah seperti ini kerap tak terlihat oleh pengunjung. Kubah putih memang mudah dipotret, tetapi data, catatan waktu, dan komunikasi antarlembaga adalah bagian dari pekerjaan yang membuat ilmu berkembang. Itulah mengapa cerita 'sebelum GPS' lebih menarik sebagai sejarah cara manusia bekerja sama daripada semata perbandingan alat lama dan telepon modern.
Baca juga di Portal Masa
Ide Observatorium Bosscha Berawal dari Hotel di Bandung · Teleskop Ganda Zeiss, Mata Raksasa Bosscha Sejak 1928
Catatan
Tulisan ini merupakan pengantar sejarah sains yang disederhanakan. Penjelasan utamanya merujuk pada kajian ilmiah Taufiq Hidayat dan rekan-rekan tentang keterlibatan Observatorium Bosscha dalam World Longitude Determination 1926 dan 1933, serta informasi sejarah lembaga dari Observatorium Bosscha ITB. Pengukuran garis bujur astronomis tersebut tidak sama dengan teknologi GPS modern.

