Kisah dahulu: pekerjaan yang harus selesai sebelum fajar

Di tepian hutan, Dayang Sumbi hidup bersama anaknya, Sangkuriang, dan seekor anjing bernama Si Tumang. Dalam legenda Sunda, Si Tumang bukan hewan biasa. Kisah keluarganya terhubung dengan kejadian ajaib dan janji yang pernah diucapkan Dayang Sumbi ketika alat tenunnya jatuh.

Sangkuriang tumbuh menyukai hutan dan perjalanan. Ia ditemani Si Tumang ketika berburu. Suatu hari perburuan itu berakhir buruk. Terjadi kesalahan yang membuat Dayang Sumbi sangat sedih sekaligus marah. Sangkuriang meninggalkan rumah. Dari sana ia mengembara, sementara rumah masa kecilnya perlahan menjadi kenangan.

Bertahun-tahun kemudian, Sangkuriang kembali sebagai pemuda dewasa. Ia tidak mengenali Dayang Sumbi, yang menurut dongeng tetap berwajah muda. Keduanya bertemu tanpa mengetahui hubungan sebenarnya. Ketika Dayang Sumbi melihat tanda lama di kepala pemuda itu, ia menyadari bahwa orang yang ada di hadapannya adalah anak yang telah lama pergi.

Sangkuriang tidak segera percaya penjelasannya. Ia ingin menikahi Dayang Sumbi tanpa memahami bahwa mereka adalah ibu dan anak. Dayang Sumbi harus mencari cara agar perkawinan itu tidak terjadi. Karena itulah ia mengajukan syarat yang tampaknya tidak mungkin dipenuhi: membendung air dan membuat perahu besar dalam satu malam, sebelum fajar menyingsing.

Sangkuriang menerima tantangan. Ia berangkat mencari kayu besar, sementara pertolongan dari makhluk-makhluk gaib datang dalam beberapa versi cerita. Hutan yang semula sepi berubah menjadi tempat pekerjaan berlangsung. Batang kayu dipindahkan, air mulai tertahan, dan perahu pelan-pelan terbentuk dalam gelap.

Malam terus menipis. Dayang Sumbi menyadari bahwa pekerjaan itu mungkin berhasil. Ia memikirkan cara menghentikannya. Dalam salah satu versi, kain terang dibentangkan atau cahaya dibuat menyerupai datangnya fajar. Ada versi yang mengaitkannya dengan bunyi ayam dan tanda-tanda pagi. Para pembantu gaib mengira waktunya sudah habis dan meninggalkan pekerjaan.

Sangkuriang memandang perahu yang hampir selesai. Tetapi pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum pagi telah gagal. Dalam kemarahan dan kekecewaannya ia membuat perahu itu terbalik. Konon, perahu yang tertelungkup berubah menjadi gunung yang sekarang disebut Tangkuban Parahu.

Cerita yang terus dibagikan dari generasi ke generasi itu menjawab pertanyaan anak-anak yang melihat bentuk gunung seperti perahu terbalik. Sebagian penutur bahkan menghubungkan potongan kayu dan sisa pekerjaan malam tersebut dengan nama-nama gunung di sekitarnya. Namun penjelasan ilmiah mengenai Tangkuban Parahu tetap berada di dunia geologi, bukan di dunia dongeng.

Visual editorial: tiga hal penting tentang Sangkuriang dan Perahu yang Tak Pernah Berlayar
Ringkasan editorial tentang Sangkuriang dan Perahu yang Tak Pernah Berlayar. Desain grafis Portal Masa, 2026; bukan foto arsip atau peta berskala.

Setelah kisah selesai: menelusuri cerita dan tempat

Satu Cerita, Banyak Gunung

Yang menarik, kisah ini tidak selalu berhenti pada satu gunung. Dalam sejumlah penuturan lama, benda-benda yang digunakan dalam usaha Sangkuriang dikaitkan dengan nama-nama gunung dan tempat lain di kawasan Bandung. Ada cerita tentang ranting kayu yang dihubungkan dengan Burangrang, serta benda-benda lain yang menjadi bagian dari bentang alam.

Karena itulah Sangkuriang lebih dari sekadar dongeng tentang seorang pemuda yang gagal membangun perahu. Ia juga menjadi cara masyarakat menjelaskan dunia yang dilihat di sekelilingnya: gunung, lembah, air, dan bentuk-bentuk alam yang terasa ganjil sekaligus menakjubkan.

Bagi orang yang tumbuh di Lembang, Parongpong, Cisarua, atau wilayah Bandung utara, Tangkuban Parahu bukan hanya nama di peta. Gunung itu hadir di cakrawala sehari-hari. Cerita Sangkuriang memberi lanskap yang akrab sebuah kehidupan imajinatif.

Bayangkan seseorang menunjuk pegunungan dari kejauhan, lalu berkata kepada anaknya: “Lihat, itu perahu Sangkuriang.”

Dan sebuah pemandangan yang tadinya diam mendadak menjadi cerita.

Jejak Cerita Di Masa Lalu

Legenda Sangkuriang telah lama mendapat perhatian penulis dan pengumpul cerita. Salah satu dokumentasi tertulisnya terdapat dalam puisi berbahasa Belanda tentang Sang Koeriang yang terbit pada 1857. Penelitian modern menemukan bahwa rincian kisah pada versi itu berbeda dari cerita populer yang banyak dikenal sekarang. Kisah lain yang dicatat pada awal abad ke-20 juga menyebut lebih banyak nama tempat yang terhubung dengan petualangan Sangkuriang.

Artinya, pertanyaan menariknya bukan hanya “apakah perahu itu benar-benar menjadi gunung?”, melainkan juga: “Bagaimana orang-orang pada zaman berbeda menceritakan gunung yang sama?”

Kisahnya boleh berubah, tetapi rasa ingin tahu yang dibangkitkannya tetap hidup.

Sudah tercatat sebelum unggahan internet

Nama Sangkuriang telah lama hidup dalam tradisi sastra Sunda. Bibliografi Ensiklopedi Susastra Sunda terbitan 1987, misalnya, mencantumkan sebuah karya berjudul Sasakala Sangkuriang oleh Soehenda Iskar dan Didi Suryadi yang diterbitkan Lembaga Kebudayaan Universitas Padjadjaran pada 1975. Catatan bibliografis ini cukup untuk menunjukkan bahwa kisahnya bukan ciptaan baru internet. Namun, daftar pustaka bukan pengganti pembacaan teks lengkap. Rincian seperti susunan adegan, benda-benda yang muncul, dan penjelasan tentang gunung perlu dinisbatkan kepada versi yang sungguh dibaca. Karena itu artikel ini menceritakan alur yang umum dikenal, sambil menghindari klaim bahwa semua penutur Sunda selalu menggunakan versi yang persis sama.

Baca juga di Portal Masa

Burangrang dan Bukit Tunggul, Sisa Pekerjaan Sangkuriang · Tangkuban Parahu Bukan Hanya Satu Kawah

Catatan

Tulisan ini merupakan penceritaan kembali salah satu versi legenda Sunda, bukan penjelasan ilmiah terbentuknya Gunung Tangkuban Parahu. Terdapat perbedaan alur dan nama tokoh dalam berbagai penuturan. Untuk cerita dan pembahasannya, lihat bahan pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentang Sangkuriang, kajian Retty Isnendes (2025) atas karya berbahasa Belanda terbitan 1857, serta tulisan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Purwakarta mengenai ragam versinya.

Catatan penuturan: Dialog dan penggambaran suasana dalam kisah merupakan penceritaan ulang kreatif redaksi berdasarkan motif yang tercatat, bukan kutipan langsung dari naskah atau kesaksian pelaku. Versi lisan dan tulisan dapat berbeda.