Kisah dahulu: dua bokor di kaki gunung
Konon, di kaki Gunung Masigit hiduplah sebuah keluarga petani. Sang ayah dikenal dalam salah satu penuturan sebagai Eyang Raksa Dinata. Putrinya bernama Maribaya. Rumah mereka tidak megah. Hari-hari diisi pekerjaan kebun, mengurus rumah, dan mendengar kabar dari tetangga yang datang silih berganti.
Maribaya beranjak dewasa dan makin dikenal di kampung. Para pemuda ingin mendekatinya. Pada mulanya keadaan itu tidak membuat sang ayah gelisah. Namun kemudian muncul persaingan. Orang-orang mulai memperdebatkan siapa yang seharusnya memperoleh perhatian Maribaya. Raksa Dinata tidak ingin persoalan di sekitar rumahnya berubah menjadi pertengkaran antartetangga.
Ia mencoba berpikir sendiri, tetapi tidak menemukan jalan keluar. Akhirnya ia memutuskan melakukan perjalanan ke arah Gunung Tangkuban Parahu. Dalam dunia dongeng, gunung tidak hanya menjadi tempat berkabut dan berbatu. Di sana seseorang dapat bertemu dengan hal yang tidak dapat dijelaskan melalui kebiasaan sehari-hari.
Setelah berjalan jauh dan menjalani pertapaan, Raksa Dinata berjumpa seorang kakek misterius. Sang kakek tidak memberinya nasihat panjang tentang cara menenangkan para pemuda. Sebaliknya, ia menyerahkan dua bokor berisi air, lalu memberinya petunjuk agar air itu ditumpahkan di dua tempat berbeda.
Raksa Dinata kebingungan. Ia berangkat mencari jawaban tentang keluarganya, tetapi pulang membawa dua wadah air. Meski begitu, ia berusaha menjalankan pesan yang diterimanya. Bokor pertama dibawanya ke suatu tempat yang dalam kisah dihubungkan dengan Situ Lembang. Air di dalamnya ditumpahkan di sana. Setelah itu ia meneruskan perjalanan pulang sambil menjaga bokor kedua.
Setiba di rumah, ia memanggil Maribaya. Sang putri diminta menumpahkan air dari bokor yang tersisa di dekat tempat tinggal mereka. Maribaya melakukannya. Air meresap ke tanah dan tidak segera menunjukkan sesuatu yang berbeda. Keduanya hanya dapat menunggu.
Konon, beberapa waktu kemudian tanah tersebut mengeluarkan air hangat. Tidak lama, sumber air panas itu semakin dikenal. Orang-orang datang karena penasaran. Ada yang sekadar melihat alirannya; ada yang percaya bahwa berendam dalam air hangat dapat membantu tubuh terasa lebih nyaman. Cerita tentang sumber air menyebar melampaui kampung.
Raksa Dinata yang dulu mencemaskan persaingan di sekitar putrinya kini harus menyambut orang-orang yang datang untuk melihat tempat itu. Dalam salah satu versi, pengunjung meninggalkan uang sebagai tanda terima kasih, lalu pengelolaan tempat tersebut kelak dikaitkan dengan Maribaya. Nama sang putri pun dipercaya melekat pada tempat yang memiliki sumber air panas.
Itulah akhir legenda Nyi Maribaya dan dua bokor air menurut salah satu jalur penuturan: satu bokor dikaitkan dengan Situ Lembang, satu lagi dengan air panas Maribaya. Bukti geologi dan arsip wisata tidak membenarkan kejadian ajaib ini; keduanya dibahas terpisah setelah cerita selesai.


Setelah kisah selesai: menelusuri cerita dan tempat

Nama yang terus diingat
Seiring waktu, kolam air panas itu dalam cerita dikaitkan dengan nama Maribaya karena diwariskan kepada sang putri. Seakan-akan sebuah sumber air menyimpan nama orang yang pertama kali menumpahkan air di sana.
Bagi orang yang sekarang mengenal kawasan wisata Maribaya, kisah dua bokor ini memberi cara lain untuk membayangkan tempat tersebut. Air panas dan lembahnya nyata; perjalanan dua bokor yang ajaib merupakan dunia cerita rakyat. Keduanya dapat dinikmati tanpa harus dicampuradukkan.
Dan bayangkan jika dua orang tua duduk bersama lalu sama-sama menceritakan Nyi Maribaya. Yang seorang menunjuk Situ Lembang, yang lain menyebut Ciater. Keduanya mungkin berdebat sebentar, tetapi akhirnya mereka justru punya lebih banyak cerita untuk didengar.
Itulah keistimewaan kisah yang turun dari mulut ke mulut: kadang bukan satu jawaban yang tersisa, melainkan beberapa jalan menuju tempat yang sama.
Mengapa dua bokor tidak selalu menuju tempat yang sama?
Banyak cerita rakyat berpindah dari percakapan keluarga ke tulisan wisata. Selama perjalanan itu, tempat atau nama dapat berubah. Pada versi yang muncul dalam tulisan Legenda Maribaya 2013, bokor pertama dihubungkan dengan Situ Lembang. Tulisan lain yang terbit pada 2012 menuturkan jalur air dengan mengaitkannya pada Ciater. Keduanya tidak boleh disambung menjadi satu rute perjalanan seolah sang tokoh menumpahkan air di tiga lokasi.
Perbedaan ini juga menjelaskan mengapa cerita sebaiknya disampaikan dahulu dalam satu versi yang konsisten. Jika setiap tiga paragraf kisah dihentikan untuk membandingkan lokasi, pembaca akan kehilangan perjalanan Raksa Dinata dan putrinya. Penjelasan tentang variasi tetap penting, tetapi tempatnya sesudah penyelesaian dongeng.
Sejarah kawasan panas bumi bisa diperiksa dari jenis sumber yang berbeda: panduan wisata, iklan pemandian, laporan jalur jalan, dan dokumen pengelolaan. Dokumen tersebut memberi informasi bahwa sebuah fasilitas wisata pernah beroperasi, bagaimana pengunjung datang, serta pelayanan yang dikenakan biaya. Tidak satu pun membuktikan bahwa bokor ajaib pernah ditumpahkan. Itulah alasan kisah Raksa Dinata dipisahkan dari artikel Maribaja dalam Arsip.
Cerita dua bokor layak diwariskan sebagai bagian dari kebudayaan lisan, bukan sebagai pengganti penjelasan tentang asal air panas. Setelah memahami akhir kisah Maribaya, pembaca dapat menikmati bagaimana satu tempat memiliki sekaligus dongeng, penuturan asal nama, dan catatan perjalanan kolonial, masing-masing dengan jenis bukti yang berbeda.
Baca juga di Portal Masa
Maribaja dalam Arsip: Dari Jalan Setapak hingga Pemandian Bertarif Tiga Kelas · Maribaya: Konon, Nama Itu Pernah Dihubungkan dengan Haji Hasan Mustapa
Catatan
Tulisan ini merupakan penceritaan ulang legenda, bukan peristiwa yang dibuktikan melalui arsip sezaman. Versi yang menghubungkan bokor pertama dengan Situ Lembang ditemukan dalam Legenda Maribaya (2013) dari Komunitas Satubumikita, sedangkan versi yang menghubungkannya dengan Ciater terdapat dalam tulisan Jendela Bandung (2012), yang disebut sebagai pengolahan kisah dari buku Her Suganda. Kedua penuturan mungkin berbagi tradisi cerita yang sama dan tidak otomatis merupakan kesaksian independen. Katalog perpustakaan juga mencatat buku Sasakala Pamandian Maribaya (Astia S., 2009), tetapi teks lengkapnya belum diperiksa dalam penyusunan ini. Penjelasan mengenai sumber air panas secara ilmiah memerlukan penelitian geologi, bukan dongeng.
Catatan penuturan: Dialog dan penggambaran suasana dalam kisah merupakan penceritaan ulang kreatif redaksi berdasarkan motif yang tercatat, bukan kutipan langsung dari naskah atau kesaksian pelaku. Versi lisan dan tulisan dapat berbeda.

