Kisah dahulu: perempuan, benang, dan kucing di bulan

Pada malam bulan terang, seorang anak dapat melihat bercak-bercak gelap di permukaannya. Dulu, ketika layar televisi belum memenuhi ruang keluarga, orang-orang mempunyai cerita untuk menjelaskan gambar samar tersebut. Dalam salah satu legenda Sunda, konon di sana tinggal seorang perempuan bernama Nini Anteh bersama kucingnya, Candramawat.

Bayangkan Nini Anteh duduk dengan pekerjaan tenunnya. Benang bergerak perlahan di antara jemari. Candramawat berbaring tidak jauh, kadang membuka mata setiap kali terdengar suara alat tenun. Dari kejauhan Bumi tampak seperti tempat yang tidak mudah dicapai. Meski bulan tampak terang, tinggal jauh dari orang yang dikenalnya tentu bukan perkara sederhana dalam dunia dongeng.

Dalam salah satu ragam cerita, ada tokoh bernama Aki Anteh yang dirindukan oleh Nini Anteh. Ada pula Aki Bentar, yang membuat jalan pulang menjadi rumit. Kisah dalam penelitian folklor tidak memberikan alur yang selalu seragam: ada versi yang menekankan tenunan dan kucing, ada yang menuturkan kesulitan Nini Anteh menjumpai Aki Anteh. Karena itulah penutur memilih bagian yang paling ingin mereka sampaikan.

Saat rasa rindu datang, Nini Anteh tidak selalu dapat menjangkau orang yang jauh di Bumi. Dalam sebagian penuturan ia bermain kacapi sebagai pelipur hati. Di dekatnya Candramawat seolah memahami bahwa majikannya sedang memikirkan seseorang. Kucing itu menjadi kawan yang selalu hadir ketika jarak memisahkan Nini Anteh dari orang-orang yang ia kenal.

Kisah tentang kucing juga membuat anak-anak mudah mengingat tokoh di bulan. Ketika bercak gelap di langit membentuk bayangan yang tidak jelas, orang dapat menunjuk dan berkata bahwa itu Nini Anteh sedang bekerja; tidak jauh darinya ada Candramawat. Coba lihat dari malam yang berbeda: kadang gambar itu terasa mirip perempuan yang duduk, kadang menyerupai bentuk lain. Tidak semua orang melihatnya dengan cara yang sama.

Demikianlah dunia legenda: apa yang dilihat mata menjadi awal cerita, lalu cerita membantu orang memperhatikan langit. Nini Anteh tetap menenun dalam ingatan, sedangkan Candramawat menemaninya di tempat yang hanya dapat dilihat dari kejauhan. Jika anak tadi bertanya apakah benar ada rumah dan alat tenun di bulan, penutur dapat menjelaskan bahwa itulah cara orang dahulu bercerita. Penjelasan ilmiah tentang bercak bulan berada dalam bagian setelah dongeng.

Visual editorial: tiga hal penting tentang Nini Anteh dan Kucing di Bulan
Ringkasan editorial tentang Nini Anteh dan Kucing di Bulan. Desain grafis Portal Masa, 2026; bukan foto arsip atau peta berskala.

Setelah kisah selesai: menelusuri cerita dan tempat

Seorang perempuan, seekor kucing, dan lebih dari satu versi

Penelitian folklor di Universitas Pendidikan Indonesia pada 2009 mencatat bahwa Nini Anteh tidak hidup dalam satu jalur cerita saja. Dalam kajian tersebut terdapat pembahasan mengenai variasi tokoh Nini Anteh yang pergi ke Bulan dan peran kucing bernama Candramawat. Salah satu penafsiran penelitian menghubungkan bahan cerita dengan kehidupan masyarakat agraris serta pekerjaan mengolah benang dan kain. Itu merupakan tafsir atas sastra lisan, bukan bukti bahwa ada manusia tinggal di permukaan Bulan. Ketika membaca versi yang berbeda, lebih menarik untuk bertanya siapa penuturnya, kapan kisah direkam, dan untuk pendengar seperti apa cerita itu disampaikan. Dengan cara itulah sebuah dongeng diperlakukan sebagai warisan budaya yang memiliki sejarah penuturan.

Mengapa tokoh di bulan punya cerita berbeda-beda?

Di berbagai tempat, bercak di permukaan bulan mengundang penafsiran yang berlainan. Ada masyarakat yang membayangkan binatang, ada yang membayangkan manusia sedang bekerja. Dalam beberapa penuturan Sunda, seorang perempuan yang memintal atau menenun bersama kucingnya menjadi tokoh yang mudah diingat. Itulah inti yang menghubungkan Nini Anteh dengan gambaran bulan purnama dalam cerita rakyat.

Kajian folklor tentang representasi kucing dalam cerita Sunda membahas Candramawat, bukan sekadar hewan penghias adegan. Kucing tersebut memiliki hubungan erat dengan Nini Anteh, terutama dalam kisah yang turut memunculkan Aki Anteh dan Aki Bentar. Peranan masing-masing dapat berubah bila penutur memilih versi lain. Sebab itu, mengganti semua varian dengan satu kisah seolah berasal dari satu naskah baku justru menghilangkan kekayaan tradisi.

Kajian akademik membantu kita mengenali motif-motif yang dicatat, tetapi tidak perlu membebani halaman pertama dengan teori sastra. Pembaca sebaiknya terlebih dahulu memahami siapa perempuan di bulan, mengapa kucing itu selalu disebut, serta apa yang membuat tempat tinggalnya terasa jauh. Barulah sesudah cerita selesai, keterangan bibliografi dan berbagai penafsiran menjadi berguna.

Secara astronomis, pola gelap di Bulan berhubungan dengan bentang permukaannya, bukan bayangan seorang penenun. Fakta ilmiah itu tidak menghapus nilai sebuah dongeng. Kita bisa mengamati bulan dengan teleskop pada suatu malam, lalu pada malam lain mendengar kembali cerita Nini Anteh. Keduanya memberikan pengalaman yang berbeda dan tidak perlu dipaksakan menjadi penjelasan yang sama.

Baca juga di Portal Masa

Mundinglaya Dikusumah dan Layang Salaka Domas

Catatan

Nini Anteh atau Nyai Anteh merupakan tokoh folklor Sunda dengan berbagai versi penuturan. Kajian Ani Rostiyati tentang representasi kucing dalam folklor Sunda mencatat tokoh Nini Anteh dan kucing Candramawat. Kisah ini bukan penjelasan ilmiah mengenai keadaan bulan.

Catatan penuturan: Dialog dan penggambaran suasana dalam kisah merupakan penceritaan ulang kreatif redaksi berdasarkan motif yang tercatat, bukan kutipan langsung dari naskah atau kesaksian pelaku. Versi lisan dan tulisan dapat berbeda.