Kisah dahulu: gadis Maribaya, dua bokor, dan nama yang diingat
Ada sebuah nama di pegunungan utara Bandung yang dapat memulai percakapan panjang: Maribaya. Bayangkan seorang pengunjung berdiri di dekat kawasan air panas dan bertanya kepada penduduk, “Mengapa tempat ini disebut Maribaya?” Pertanyaan tersebut terdengar sederhana. Tetapi jawabannya bisa menuju dua dunia cerita yang berbeda.
Dalam sebuah legenda populer, seorang petani bernama Eyang Raksa Dinata tinggal bersama putrinya, Maribaya. Ketika perhatian para pemuda terhadap putrinya menimbulkan kegelisahan, sang ayah pergi mencari petunjuk ke gunung. Di sana, menurut dongeng, ia menerima dua bokor berisi air. Air dari bokor pertama ditumpahkan di tempat yang dikaitkan dengan Situ Lembang. Bokor kedua sampai ke rumahnya dan ditumpahkan oleh Maribaya.
Beberapa waktu kemudian, demikian cerita itu berlanjut, tanah di dekat rumah mengeluarkan air panas. Orang-orang datang untuk melihat dan merasakan hangatnya. Tempat tersebut semakin dikenal; dalam salah satu jalur penuturan, pengelolaannya kelak dikaitkan dengan sang putri. Namanya kemudian melekat pada lokasi itu: Maribaya.
Tetapi ada jawaban lain yang beredar ketika pertanyaan tentang nama tersebut diajukan. Sejumlah tulisan menghubungkan penamaan Maribaya dengan Haji Hasan Mustapa, seorang pujangga Sunda dan penghulu Bandung. Ada penuturan mengenai hubungan nama itu dengan ungkapan atau harapan tentang keselamatan dan kebahagiaan. Nama beliau muncul dalam cerita asal-usul tempat, meskipun tidak setiap penuturan memberikan bukti, waktu, atau rangkaian peristiwa yang dapat diperiksa.
Pada titik inilah orang yang bertanya tadi mungkin memperoleh dua jawaban berbeda: satu membawa tokoh gadis dan air dari dua bokor, satu lagi membawa nama seorang tokoh yang dikenal dalam sejarah sastra Sunda. Keduanya berbicara tentang satu tempat. Namun keduanya tidak harus dipaksa menjadi satu kejadian yang berlangsung pada tahun dan oleh orang yang sama.
Sebagai kisah, kedua jawaban itu memperlihatkan cara sebuah nama diwariskan. Sebagai sejarah, keduanya masih memerlukan pengujian. Adegan tanya-jawab pengunjung di sini hanyalah pengantar imajinatif dari redaksi, bukan kutipan wawancara atau kesaksian warga. Kisah bokor dijabarkan lebih panjang dalam artikel Nyi Maribaya, sedangkan pembahasan berikut menjelaskan mengapa hubungan dengan Haji Hasan Mustapa belum dapat dianggap sebagai keputusan penamaan yang terdokumentasi.

Setelah kisah selesai: menelusuri cerita dan tempat
Di balik dua versi nama Maribaya
Sumber-sumber wisata tidak selalu independen. Rujukan Komunitas Aleut tahun 2012 menyinggung tulisan majalah Sunda era 1950-an mengenai Haji Hasan Mustapa; citra majalah aslinya belum diperiksa. Karena itu nama beliau tidak boleh ditulis sebagai pelaku penamaan yang telah dipastikan. Keterangan 1835 pun belum mempunyai pembuktian dokumen sezaman. Artikel ini sengaja tidak mencampur cerita dua bokor dengan sejarah penamaan yang masih diperdebatkan.
Mengapa waktu penamaan perlu dipisahkan dari dongeng?
Nama Haji Hasan Mustapa masuk akal dijumpai dalam pembahasan kebudayaan Sunda karena beliau memang dikenal sebagai pujangga dan tokoh agama. Tetapi seseorang yang dikenal luas tidak otomatis dapat dinyatakan sebagai pemberi nama semua tempat yang dikaitkan dengan dirinya. Untuk menerima cerita penamaan, kita perlu bertanya: dalam terbitan apa penjelasan itu pertama kali muncul, siapa yang mengutipnya, dan apakah penulisnya mencatat kesaksian atau hanya mengulang cerita yang telah ada?
Hal ini terutama penting karena cerita tentang Raksa Dinata sering menyebut tahun 1835 dalam tulisan wisata modern. Haji Hasan Mustapa lahir sesudah tahun tersebut. Menyatukan tahun 1835 dengan cerita bahwa beliau menamai tempat itu akan menghasilkan kronologi yang tidak sesuai. Tetapi perbedaan itu juga tidak berarti kita langsung dapat memilih satu versi sebagai satu-satunya kebenaran. Kisah Raksa Dinata sendiri belum memiliki dokumen sezaman yang mengesahkan tahun tersebut.
Ada pula urusan bahasa: sebuah kata yang sekilas dapat dipecah menjadi dua suku kata tidak serta-merta mempunyai etimologi seperti yang terdengar di telinga kita sekarang. Tafsir nama mungkin merupakan penjelasan rakyat yang muncul setelah nama tempat telanjur digunakan. Untuk membuktikannya, peneliti memerlukan ejaan dalam dokumen lama, perbandingan istilah Sunda di masa yang sama, dan kajian bahasa yang memang membahas asal katanya.
Pembaca yang tertarik dapat menikmati dua jalan cerita tadi tanpa perlu memilih salah satu secara gegabah. Yang dapat dipastikan melalui arsip wisata abad ke-20 ialah nama Maribaja/Maribaya telah dipakai untuk sebuah pemandian di Lembang. Siapa pertama kali mengucapkannya dan atas alasan apa masih memerlukan penelitian terpisah. Menempatkan penggalian itu setelah cerita justru membuat dongeng tetap utuh, sementara sejarah tidak kehilangan ketelitiannya.
Baca juga di Portal Masa
Nyi Maribaya dan Dua Bokor Air Ajaib · Maribaja dalam Arsip: Dari Jalan Setapak hingga Pemandian Bertarif Tiga Kelas
Catatan
Artikel ini menyajikan versi penuturan asal nama, bukan kesimpulan etimologi yang telah terbukti. Klaim mengenai Haji Hasan Mustapa sekitar 1912 dan tafsir 'mari/baya' dikutip sebagai cerita yang dilaporkan Komunitas Aleut pada 2012 dengan rujukan majalah Sunda lama yang identitas lengkapnya belum diketahui. Keberadaan Haji Hasan Mustapa sebagai pujangga Sunda dan penyebutan Asmarandana Maribaya dalam kajian ilmiah tidak membuktikan bahwa beliau menciptakan nama tempat. Klaim penamaan perlu diuji dengan dokumen sezaman dan sumber linguistik.
Catatan penuturan: Dialog dan penggambaran suasana dalam kisah merupakan penceritaan ulang kreatif redaksi berdasarkan motif yang tercatat, bukan kutipan langsung dari naskah atau kesaksian pelaku. Versi lisan dan tulisan dapat berbeda.

