Kisah dahulu: perjalanan Semprani yang terhenti
Pada suatu masa dalam dunia dongeng, langit di atas tanah Sunda bukan hanya dilalui burung dan awan. Seekor kuda bernama Semprani dipercaya mampu membawa penunggangnya melewati punggung gunung. Ketika berjalan di tanah, ia tampak seperti kuda yang kuat. Tetapi ketika waktunya terbang, kakinya seperti tidak membutuhkan jalan.
Dalam salah satu versi kisah Batu Kuda, penunggangnya adalah Prabu Layang Kusuma dan Ratu Layang Sari. Mereka melakukan perjalanan jauh dengan Semprani. Dari ketinggian, lembah-lembah tampak kecil. Permukiman dan kebun seolah menyatu dengan warna hijau hutan. Gunung-gunung terlihat seperti ombak yang tidak bergerak.
Perjalanan yang mula-mula tenang berubah ketika kabut datang. Punggung Gunung Manglayang menghilang di balik awan. Semprani harus mencari jalan di antara udara yang kian gelap. Para penutur tidak selalu sepakat tentang sebab kecelakaan itu: ada yang mengatakan kuda kehilangan arah, ada yang menyebut penerbangannya terhenti saat melewati lereng. Dalam kisah yang sama, semuanya menuju satu peristiwa: Semprani jatuh di kawasan Manglayang.
Raja dan permaisuri berusaha menemukan tunggangan mereka. Hutan tidak mudah ditembus. Dahan-dahan menutup pandangan dan tanah lereng membuat langkah mereka lambat. Nama Semprani dipanggil berulang-ulang, tetapi tidak terdengar ringkikan yang biasa mereka kenal.
Hingga akhirnya mereka menjumpai sebuah bentuk besar di tengah hutan. Bentuk itu menyerupai kuda yang sedang tertahan. Konon, Semprani tidak lagi dapat berjalan, apalagi terbang. Tubuhnya sudah berubah menjadi batu. Yang dahulu bergerak melewati langit kini menjadi bagian dari lereng gunung.
Apakah mereka langsung mengenalinya? Cerita tidak memberi jawaban yang selalu sama. Akan tetapi, bayangan tentang kuda yang membatu itulah yang memberi nama Batu Kuda dalam salah satu tradisi setempat. Di kemudian hari orang datang ke lokasi yang dianggap memiliki batu berwujud kuda, lalu kisah perjalanan Semprani dituturkan kembali.
Jika kita memasuki hutan Manglayang sekarang, pepohonan dan batu yang terlihat adalah bagian alam yang nyata. Perjalanan raja dan kuda terbang adalah dunia cerita. Keduanya bertemu ketika seseorang menunjuk sebuah batu sambil mulai bertutur, “Konon, dahulu pernah ada seekor kuda yang melintas di langit.”
Setelah kisah selesai: menelusuri cerita dan tempat
Batu yang mempunyai dua wajah
Nama Batu Kuda mengajak orang membayangkan seekor kuda yang mendadak terhenti dalam perjalanan. Di kawasan Gunung Manglayang, pengunjung mengenal sebuah lokasi wisata berhutan dan sebuah batu besar yang dikaitkan dengan cerita kuda terbang. Bagi pendatang, bentuk batu menjadi objek yang nyata; bagi penutur legenda, bentuk itu membuka pertanyaan tentang apa yang terjadi sebelum kuda tersebut menjadi diam. Dua cara memandang satu tempat ini perlu dibedakan. Batu yang dilihat sekarang tidak dengan sendirinya membuktikan terjadinya peristiwa ajaib.
Dalam versi populer, kuda yang dihubungkan dengan tokoh Prabu Layang Kusuma mengalami kegagalan atau terhenti dalam perjalanan. Versi lain mungkin menggeser nama dan sebabnya. Daripada mencampur semua nama yang ditemukan di internet, lebih baik memperlihatkan satu rangkaian yang jelas, lalu menyebutkan bahwa penuturan dapat berbeda. Legenda memiliki logika sendiri: benda paling berat sekalipun dapat berasal dari makhluk yang dahulu bergerak lincah.

Dari kaki gunung menuju cerita kampung
Manglayang merupakan bagian bentang pegunungan timur laut Bandung. Hutan dan jalur pendakian di sekitar kawasan Batu Kuda memberi pengalaman yang berbeda dari jalan kota. Ada pepohonan, perubahan kontur, dan cahaya yang menyusup di sela tajuk. Deskripsi itu menggambarkan suasana umum kawasan alam, bukan pengesahan bahwa satu jalur tertentu sudah dipakai oleh tokoh legenda. Klaim seperti 'bekas pijakan kuda' harus dibedakan dari bentukan batu yang secara geologi memerlukan pemeriksaan lapangan.
Nama tempat bekerja seperti catatan singkat yang terus dibaca orang. Anak-anak mungkin mula-mula mendengar 'Batu Kuda' sebagai petunjuk arah. Setelah mengetahui ceritanya, nama tersebut menjadi lebih hidup. Inilah salah satu alasan cerita lokal bertahan: orang dapat menunjuk sesuatu yang ada dalam pemandangan sambil mengingat peristiwa yang dituturkan, bukan ditanggal.
Jangan keliru dengan Batu Kuda di tempat lain
Di Jawa Barat terdapat lokasi lain yang juga memakai nama Batu Kuda. Kemiripan nama bukan alasan untuk mengambil foto atau sejarah dari lokasi berbeda. Untuk artikel ini yang dibahas adalah kawasan Gunung Manglayang. Foto yang tidak mempunyai koordinat, keterangan lokasi, atau sumber yang cukup lebih aman ditahan daripada diberi judul seolah pasti benar. Prinsip yang sama berlaku untuk gambar kuda bersayap: ia pantas muncul sebagai ilustrasi legenda, bukan bukti foto makhluk yang pernah hidup.
Ada perbedaan antara 'kisah yang dikaitkan dengan suatu batu' dan 'batu yang terbukti merupakan peninggalan seorang raja'. Penelitian sejarah membutuhkan sumber dan urutan waktu, sementara tradisi lisan dapat dibaca sebagai warisan cara masyarakat memberi makna kepada lingkungan. Menjaga perbedaan ini membuat cerita tetap menarik sekaligus memberi kesempatan kepada pembaca untuk menilai setiap klaim secara wajar.
Bila suatu saat ditemukan penuturan tua, rekaman warga, atau buku yang memuat versi lebih lengkap, artikel ini dapat diperbaiki. Sampai saat itu, cerita kuda yang tak lagi terbang paling tepat dinikmati sebagai penjelasan budaya terhadap sebuah penanda alam yang nyata.
Nama Semprani sudah dicatat sebelum 2016
Tulisan perjalanan tentang Batu Kuda yang terbit pada Januari 2010 menghubungkan kawasan Manglayang dengan tempat singgah sepasang tokoh yang disebut Eyang Layang Kusumah dan istrinya. Dalam penuturan itu muncul Kuda Semprani, hewan yang diyakini mampu terbang, serta sebuah batu besar yang bentuknya dibaca warga seperti kuda yang sedang duduk. Versi tersebut tidak identik dalam semua rincian dengan kisah raja dan permaisuri yang banyak muncul dalam artikel wisata belakangan. Kita tidak sebaiknya melebur kedua jalur penuturan menjadi satu silsilah keluarga yang sudah pasti. Yang dapat dinyatakan ialah bahwa kisah Kuda Semprani di Manglayang telah memiliki rekaman tertulis sedikitnya sejak 2010.
Baca juga di Portal Masa
Burangrang dan Bukit Tunggul, Sisa Pekerjaan Sangkuriang
Catatan
Artikel ini mengolah kembali versi legenda Batu Kuda yang beredar dalam tulisan wisata dan bahan cerita rakyat. Nama tokoh dan arah perjalanan tidak selalu konsisten antarsumber. Kisah kuda terbang dan perubahan menjadi batu merupakan bagian dari dongeng, bukan peristiwa yang dapat dibuktikan secara sejarah.
Catatan penuturan: Dialog dan penggambaran suasana dalam kisah merupakan penceritaan ulang kreatif redaksi berdasarkan motif yang tercatat, bukan kutipan langsung dari naskah atau kesaksian pelaku. Versi lisan dan tulisan dapat berbeda.

