Jejak Masa dibangun dari gagasan sederhana: masa lalu tidak benar-benar hilang. Ia meninggalkan jejak pada nama tempat, bangunan, arsip, foto, cerita keluarga, ingatan warga, jalan lama, peta, dan lanskap.
Karena itu, sumber sejarah di Jejak Masa tidak dibatasi pada dokumen tertulis. Arsip kolonial, koran, buku, foto, peta, wawancara, tradisi lisan, ingatan keluarga, dan observasi lapangan dapat dipakai bersama selama asal-usul informasinya jelas.
Ketika suatu informasi berasal dari warga atau keluarga, kami cukup menyebutkan sumbernya secara langsung: “menurut keluarga…”, “menurut penuturan…”, atau “dalam ingatan warga…”. Sumber lisan tidak otomatis dianggap lebih rendah. Sebaliknya, arsip tertulis juga tidak selalu diperlakukan sebagai satu-satunya kebenaran jika ada sumber lain yang menunjukkan gambaran berbeda.
Fokus awal Jejak Masa adalah Lembang, Bandung Utara, Cisarua, Parongpong, dan kawasan sekitarnya. Namun Portal Masa dirancang agar dapat berkembang ke wilayah dan tema sejarah lain di masa depan.
Setiap artikel dapat berubah ketika ditemukan sumber baru. Bagi kami, pembaruan bukan kelemahan, melainkan bagian dari proses penelitian sejarah.
CERITA
Tentang Jejak Masa
Jejak Masa adalah kanal sejarah utama di Portal Masa—ruang untuk menghubungkan arsip, cerita, tempat, tokoh, sumber lisan, dan jejak lapangan.